Pengalaman Mendaki ke Kawah Ijen Banyuwangi Pertama Kali



Melanjutkan catatan jalan-jalan ke Banyuwangi di postingan sebelumnya, setelah puas jelajah pantai-pantai pancer dalam sehari, di hari ketiga, saya dan travel mates pun berangkat dari Pulo Merah menuju ke Kawah Ijen. 

Sebagai orang yang senang main ke alam dan menghirup udara pegunungan, suguhan kawah Ijen sebagai destinasi utama Banyuwangi memang sulit saya tolak. Memang sudah dari lama sekali sih pengen mendaki ke crater terbaik di Indonesia ini. Ini menjadi pengalaman pertama kali saya mendaki ke Ijen. 

Saya hampir lupa, kapan terakhir mendaki sebelum ke Ijen. Tapi saya waktu itu optimis saja kalau trekking ke Ijen ini terbilang aman untuk pemula. Dibanding gunung-gunung lain yang bahkan sampai menghabiskan waktu puluhan jam untuk sampai ke puncak. 

“Enggak jauh beda sama Gunung Prahu, masih satu level lah. Bismillah mampu.” begitu pikir saya dengan sedikit pongah. Kurang lebih sudah 4 kali saya trekking ke Gunung Perahu, dan memang riwayat kegiatan trekking saya lebih banyak di Wonosobo saja. Ya sama puncak-puncak kecil di Purwokerto. Bromo tentu tak hitung trekking karena semua dianter pakai jeep. Newbie banget kan ya? Haha. 

Saya pikir lumayan lah sebagai modal pendaki pemula. Gunung-gunung lain kayak Lawu, Merbabu, kalau dikasih kesempatan dan kemampuan sih pengennya menyusul. Saya menyadari, untuk ke puncak gunung-gunung kayak yang tadi saya sebut itu, memang nggak bisa sembarangan. Harus benar-benar siap mental dan fisik. Butuh kemantapan. 

Kalau kalian kebetulan sama sekali belum mendaki,  dan ingin ke Ijen, sangat direkomendasikan jalan bersama rombongan atau bisa ikut tour/sewa guide lokal demi keselamatan.



Tidak Melulu Tentang Blue Fire


Setelah menempuh waktu sekitar 3 jam, van kami pun tiba di pos Paltidung sekitar pukul 8 pagi. Berbeda dari kebanyakan rombongan yang jauh-jauh datang dari dini hari sekitar pukul 01.00 untuk berburu blue fire, kami malah ke kawah ijen saat agak siangan. Sekitar pukul 8 pagi. 




“Nggak apa-apa, siangan dikit masih dapat view bagus kok.” Begitu kata Feri, host yang merangkap pemandu kami, yang hampir ngatur semua perjalanan sharecost trip ini. 

Keuntungan jalan agak siangan, jalanan jadi nggak rame. Pikir saya, Ijen masih di Indonesia dan enggak kemana-mana, bisa dipindhoni nanti berburu blue firenya kalau ada kesempatan lagi. 

Mba Rita, kawan kami dari Bali, secara terbuka bilang di awal. “Saya kayaknya enggak kuat. Mau naik taksi saja. Saya enggak mau merepotkan kalian.”

Bukan taksi mesin yang dia maksud. Taksi yang dia maksud adalah taksi gerobak dorong manusia yang biasa dipakai untuk mengangukut barang-barang consumer goods.


Kami memahaminya. Saya pribadi salut dengan kejujuran Mba Rita. Baginya, uang tidak menjadi masalah, yang penting nyaman dan aman. Meskipun trip bersama dan siap bersama-sama, bukan berarti kita harus rely satu sama lain. Ada kalanya kita memang perlu lebih pengertian memahami situasi. 

Ohya, untuk menggunakan taksi gerobak ke puncak ini tarifnya sekitar 500-700 ribu untuk naik ke puncak. Sedangkan untuk turun sekitar 100 ribuan bisa sekalian nego. Memang cukup mahal, tapi jika diniatkan untuk membantu ekonomi warga lokal yang naik turun yang melakukan pekerjaan terberat sebagai penambang, ini pasti akan lebih berharga.

Pagi itu alhamdulillah cuaca cerah sekali, sejuknya pas dan memang asik buat mendaki. Karena waktu itu suasana siang jadi kami tak perlu repot bawa senter. 

Dan terus terang lebih bisa santuy hehe. Ya, karena saya pikir kebahagaain muncak ke Ijen tidak melulu harus tentang Blue Fire, bukan? Saya pernah mendengar cerita pendaki yang kehabisan nafas dan tak sempat melihat blue fire. Ada juga yang bahkan ketiduran di puncak karena ngantuk. Memang berbeda-beda si pengalamannya. 



Berapa harga tiket masuk ke kawah ijen? Untuk wisatawan domestik Rp.5000 – Rp.7500, sementara wisatawan mancanegara Rp.100,000 – Rp.150.000 

Sementara tarif parkir motor Rp.5000, untuk mobil Rp 10.000. 

Baca juga: Tips Jalan-jalan Backpacker ke Karimunjawa

Terpukau Ijen

Kondisi medan di kawah ijen di awal-awal memang datar, tapi mulai menanjak hingga 40 derajat. Jalan setapaknya masih enak si. Lebar dan terbilang aman. Waktu itu enggak berdebu. Hati-hati itu sebuah keharusan! karena ada spot yang pinggirnya langsung jurang, kalau jatuh, ehm. innalillah.




Kami santai saja dan tidak ngoyo. Kami malah berpapasan dengan para pendaki yang sudah turun. Mereka kayaknya dari rombongan dini hari.

Mbak Rita masih asik dengan taksinya.

Akhirnya, setelah melewati berbagai jalan landai, naik, dengan segala keceriaan yang memadat, momen yang ditunggu-tunggu tiba. 

Waktu pukul 10.30, tidak terasa kami pun sampai puncak. Nggak pernah nyangka bakal secepat ini. 



Kami berhasil menempuh dari pos paltuding ke kawah ijen kurang dari 2 jam. Karena agak siang jadi bisa lebih cepat.

Takjub.

Rumput-rumputnya.

Gunung-gunungnya.

Tebing-tebingnya.

Langit dengan gumpalan awan indahnya.

Dan lekukan kawah yang berwarna tosca.

Kami duduk-duduk santai.

Menikmati pemandangan.

Subhanallah. 





Saya suka warna toscanya Ijen. Ternyata medannya terbilang aman untuk pemula. Nggak sia-sialah jalan jauh naik kereta dari tempat tinggal saya, terbayar dengan keindahan nusantara ini.

Kami kemudian masih melanjutkan berjalan mengelilingi tepi kawah. Bukan main, bersyukur sekali akhirnya bucketlist ini tercoret juga.



Life Lesson


Selalu ada pelajaran dibalik perjalanan. Ada hal yang menarik perhatian saya saat trekking ke kawah Ijen ini sesampainya di puncak. Tentang bagaimana perjuangan para penambang yang mencari nafkah dengan menembus asap belerang. Di kawah ijen, kurang lebih ada sekitar 200 penambang yang setiap hari mengangkut berember-ember sulfur dengan berat hingga 200 KG. 




Mereka bolak balik naik turun bahkan ada yang bekerja tanpa pengaman yang layak. Agak miris sebenarnya, begitu tahu mereka dibayar dengan upah yang murah untuk pekerjaan yang paling membahayakan itu. Nyawa taruhannya. Yah, sisi lain kawah ijen yang kerap membuat saya mengelus dada.

mugi rahayu terus nggih, pak.” Saya selalu berdoa semoga manusia-manusia kuat ini selalu dilindungi Tuhan. 

Dari Bapak penambang, saya belajar untuk enggak gampang mengeluh dan menyerah. Yah, hidup memang kadang sulit.  Lakukan yang terbaik dan banyak-banyaklah bersyukur. 

Kami turun, dan waktu itu kabut mulai tebal dan langit mulai mendung.






Kami beruntung, saat turuntidak turun hujan. Saya padahal sempat was-was karena waktu itu mendaki cuma pake sandal gegara sempat ada drama sepatu ketinggalan di penginapan.  Bukan ditiru ya, :D Ah, lega rasanya. Lancar tripnya. 

Worth it.  Saya sampai sekarang masih berdoa, semoga suatu saat bisa kembali lagi menyambangi Ijen. 


Kalau pandemi reda dan ada kesempatan jalan-jalan Banyuwangi, jangan lewatkan aktifitas pendakian Ijen, genks.

Pernah ke kawah ijen juga? boleh cerita pengalaman kalian di kolom komentar ya. Yang belum, semoga catatan sederhana ini bisa memberi gambaran kalian sebelum trekking ke ijen pertama kali. Terima kasih sudah membaca. Jaga kesahatan ya, genks! (Rifan)

6 comments

  1. Cuma satu kata Wow huruf besar buat lihat ... foto kawah Ijen setjakep inii ... !. Ketjeh dan unik banget ya alamnya, seperti di buku cerita dongeng.

    ReplyDelete
  2. Cakeeeep mas view-nya 😍 saya penasaran itu kalau naik taksi jalannya barengan sama yang jalan kaki kah, mas? Takutnya kalau saya coba naik taksi terus saya ditinggal kan berabe hahahahaha 😂

    Saya sebetulnya ingin ke sana, tapi cukup tau diri karena saya nggak akan sanggup menanjak 😆 makanya sampai sekarang cuma bisa jadi penikmat cerita ehehehehe. By the way, ternyata berangkat siang seru ugha, view-nya nggak kalah mantap 😍

    ReplyDelete
  3. Warna tosca nya Ijen memang mempesona, tak heran kalau banyak wisatawan kesana.

    Lumayan juga harga taksi buat naik ke Ijen, 500-700 ribu. Kalo turun lebih murah lagi ya, cuma 100 ribu. Mungkin kalo turun kan ngga capek seperti naik, makanya lebih murah.

    ReplyDelete
  4. Kayaknya ini LBH dr 3km deh mas hahahaha. Dan lumayan nanjak juga yaa. Tp aku masih pengen bangettt kesana. Hrs jadi niih. Aku malah LBH pgn ke kawah ijen Drpd Bromo. Mungkin Krn Bromo terlalu rame ya, jd ga gitu tertarik.

    Kasian liat penambang2nya :(. Kdg kalo ketemu begini, aku jg LBH memilih pake jasa mereka utk nunjukin jalan, biar sekalian bantu juga.

    ReplyDelete
  5. Mahaal sekali itu taksi grobaknya sampe 700 ribu masa. Tapi ya kasian juga sih, pake tenaga orang gitu dorongnya hiks

    Viewnya juara banget. Sepertinya aku harus kesanaaa

    ReplyDelete
  6. Saya ke sana 2011 Januari akhir kalau nggak salah, Mas. Belum ada gerobak waktu itu. Jadi penasaran, sekarang berarti belerang-belerang dibawa turun pakai gerobak itu, Mas? Waktu itu para penambang mesti memikul sendiri belerang-belerang itu sampai ke Pos Bunder untuk ditimbang.

    ReplyDelete

Silakan beri pendapatmu tentang tulisan ini, dan bagikan pengalamanmu di komentar ya! Terima Kasih