Berburu Sunrise di Gunung Bromo: Pengalaman Ikut Open Trip Dari Malang






Sebagai pelancong yang terbiasa ngurus trip mandiri, bisa dibilang saya jarang ikut open trip. Namun kali ini, karena berbagai alasan dan pertimbangan, saya  mencoba kenalan dengan Bromo lewat tour.

Jika teman-teman berencana liburan ke Bromo untuk pertama kali dan cari-cari info di internet, atau iseng ngecek tagar di Instagram, chances are, akan menemukan berbagai pamflet yang bersliweran menawarkan paket tour ke Bromo.


Pertanyaan yang mungkin muncul, “harus banget nih ke Bromo ikut tour? Bisa nggak sih jalan kesana secara mandiri?” 

Dari informasi yang saya dapat, ngetrip secara mandiri ternyata sangat bisa, ikut tur pun juga direkomendasikan kalau kamu first timer
  • Dari cerita kawan yang backpackingan mandiri, mereka menginap di sekitaran pasar Tumpang, lalu menawar harga jeep disana. Tentu kalau ngetrip ramean bisa sharecost dan lebih murah.
  • Adalagi yang turun dari Stasiun Probolinggo, lanjut ngangkot atau ngojek ke terminal bus Bayuangga yang menjadi tempat parkir shuttle bus atau public elf yang akan ke Bromo.
  • Yang pakai mobil pribadi, biasanya diparkir dahulu di kawasan bromo dan lanjut menyewa jeep orang lokal karena sudah menjadi peraturan.
  • Malah ada juga yang ke Bromo dengan mengendarai motor matic (seriusan yang ini agak risky karena jalanannya terjal). 
Tadi adalah sekilas info yang saya baca, ternyata banyak opsinya ya. Lagi-lagi tergantung preferensi, budget dan waktu.

Bagaimana dengan pengalaman penulis? karena kunjungan pertamakali, punya waktu terbatas, cuman berdua, entah karena waktu itu sedang males nyari info dan menanggung risiko (jalannya ekstrim dan terjal), kami pun memutuskan bergabung open trip. 

Ikut open trip worth it nggak si? Well, berikut pengalaman kami waktu berkunjung Juni tahun lalu.

Baca juga : Menjelajahi Obyek Wisata di Malang dalam 6 Hari 5 Malam 

Kenapa Bromo
Bromo sudah melegenda dan diantara kawan-kawan pun saya yakin banyak yang sudah berkunjung kesana. Ada sejuta alasan untuk berkunjung ke Bromo, berkali-kali pun kayaknya masih tetap berkesan. Pesona Bromo ini memang kuat sekali sih magnetnya. Saya termasuk orang yang tertarik magnet itu. Memang bukan rahasia lagi kalau para pelancong dari berbagai negara berbondong-bondong kesana dengan tujuan yang sama: ingin menyaksikan sunrise dan menjelajah indahnya kawasan Tengger Semeru. Destinasi istimewa yang membuat saya semakin cinta dengan pesona Indonesia.


Bromo sudah menjadi bucketlist saya sejak dulu. Dan bahagia sekali Juni kemarin saya berhasil mencoretnya. Bromo benar-benar suguhan wisata di Jawa yang terbaik yang tidak boleh dilewatkan. Entah anak-anak, muda hingga tua, situ anak gunung atau bukan, Bromo terjangkau buat siapapun.

Pengalaman Join Open Trip

Sebagai backpacker yang demen ngelayab, saya sendiri sebenarnya tipe orang yang cenderung kurang berminat kalau ikut open trip. Karena sudah terbiasa ngurus trip mandiri mungkin. Misalnya pas jalan-jalan ke suatu tempat, lagi enak-enaknya kemana eh disuruh ngumpul, dikasih durasi, kurang bebas saja gitu rasanya. Ada yang gitu juga nggak? Haha.


Ini menjadi pengecualian. Karena waktu itu jalan berdua bersama adik, saya pikir repot juga ya harus menunggu, menawar jeep atau mencari pasukan, entah karena memang saya yang lagi mager nyari info, akhirnya kami memutuskan untuk join open trip saja, bergabung dengan peserta lain, dengan agenda yang sudah jelas. Mempertimbangkan keamanan juga karena kalau sewa motor pas dari Malang terus berkendara ke lokasi kayaknya bakal menyita cukup banyak energi dan waktu.

Kami menghubungi salah satu penyedia travel Bromo pada H-3 keberangkatan dari Pekalongan. ("Bromo Malangan": +62 831-0334-4353).

Tarifnya 250 ribu untuk tour Midnight tour dengan penjemputan/meeting point dari kota Malang dan sekitarnya. Rata-rata memang segitu sih. Tanpa dokumentasi karena kami bawa kamera sendiri. Kalau sama dokumentasi nambah 50 ribu, jadi 300 ribu total.

Perjalanan ke Bromo dari Malang
Kami menginap di guesthouse Studio Living di sekitar Universitas Malang. Murah, bersih dan sangat terjangkau. Per malamnya 160 ribu. Setelah berbagi lokasi lewat narahubung, kami dijemput di guesthouse pukul 23:45. Waktu itu satu mobil ada sekitar 6 orangan.

Perjalanan dari Malang ke Tumpang sekitar 35 menit. Sesampainya di Tumpang kami break sejenak di salah satu pos kecil mepo, menunggu jeep. Hawa dingin sudah menyelimuti dan menembus jaket, dan beberapa saat kemudian, jeep kami pun datang. Jujur ngejeep menuju pegunungan adalah hal pertama kali saya dan asik banget.


Bismillah, Bromo we’re coming…

Menyambut Sunrise di Bromo
Setalah merasakan sensasi jeep yang cukup mangaduk-aduk perut, pada hamparan pasir dan pegunungan, akhirnya kami tiba di spot penanjakan pukul 03:00. Setibanya di penanjakan dan sunrise point, kami sempat menghangatkan diri dulu dengan ngopi-ngopi dan santap mie instan.

Sunrise di bromo biasanya sih merekah mulai pukul 05:30. Hanya berjalan kaki beberapa langkah, kami sampai di tanjakan dan sunrise point. Suhu 4 derajat menusuk tulang, Beberapa wisatawan bersiap-siap mendokumentasikan momen lewat gadget mereka. Tak jarang turis asing dari belahan dunia terpesona, dan mereka berani bayar berkali-kali lipat demi sunrise ini.

Dan, akhirnya. Momen-momen yang ditunggu-tunggu itu pun tiba. Dalam kerumunun pengunjung itu, saya termasuk orang yang tak berhenti kagum. Gilak alam nusantara ini memang paling top.
Subhanallah!




Pesona Pasir Berbisik

Spot-spot yang dilalui selama ikut Open trip ini memang yang umum dikunjungi wisatawan. Yang bikin saya heran, entah kenapa semua spot di kawasan Taman Nasional Tengger Semeru ini cakep cakep semua! Nah, Setelah menikmati sunrise point di Penanjakan dan Bukit kingkong, kami diantar driver menuju ke spot selanjutnya, pasir berbisik, dan bukit Widodaren.

Cuaca Bromo di pagi sangat segar. Angin pegunungan yang bertiup masih terasa. di spot pasir berbisik Bromo, kerasa banget luasnya kawasan Tengger Semeru ini, hamparan pasir membentang dan langit.

Suka dengan bentukan gunungnya, lekukannya seperti es krim

Karena Kang drivernya cuman nganterin dan nggak begitu banyak ngejelasin, setelah browsing ternyata spot ini bernama Bukit Widodaren. Desir angin sudah mulai tidak begitu dingin karena matahari sudah muncul, dan saatnya lepas jaket. Dan spot satu ini kece juga.




Nggak Sempat Naik ke Kawah
Jeep terus melaju ke spot selanjutnya, Kawah Bromo dan Pura. Di area parkiran, tampak ramai pemandangan para koboi-koboi dengan kuda Tengger nya yang mereka. Siap untuk menjemput wisatawan yang mager jalan kaki.

suasana di parkiran menuju kawah Bromo
Saya ingin sekali naik ke kawah, tapi ingin jalan kaki. Sayangnya, berhubung waktu itu terlalu singkat, kami hanya menghabiskan waktu di sekitaran area pasir hingga ke Pura saja. Memang sih drivernya mempersilakan, duh mana cukup yak. Haha. Ini sih kurangnya ikut open trip, kita diberi waktu. Kalau kelebihan nggak enak kan karena sama yang lain. Saya pikir nanggung, dan karena sempat lapar belum sarapan saya mampir di warung di area parkiran jeep.

Ohya, untuk naik kawah bisa menyewa kuda ya kawan. Biaya menunggang kuda ke kawah sekitaran 100ribu-150 ribuan PP dari parkiran jeep. Kalau ingin lebih murah, jalan kaki saja ke kaki kawah, terus menanjaknya tinggal dilanjut sewa kuda sekitar 50 ribuan PP.


Kalau diberi kesempatan kedua kesini, saya tentu akan ke Kawahnya dan lebih berlama-lama. Highlight yang tidak boleh dilewatkan tentunya. 
Jalanan menuju bukit Teletubbies
sensasi ngejeep

Hijaunya Savana di Bromo/Bukit Teletubbies
Spot terakhir. Dan masih dibuat speechless dengan panorama hijaunya alam kawasan Bromo. Apalagi saya duduk di sisi depan. Jadi keliatan luasnya masya Allah! Tampak  kunemukan beberapa pengunjung yang bermotor. Dan jalanan menuju ke bukit teletubbies sudah lumayan datar.

Pesona Savana/Teletubbies

Setelah puas seharian (well, sebenarnya masih kurang sih, dilanjut lagilah suatu saat nanti), pukul 11.00 kami diantar kembali ke Tumpang. Dan sekitar jam 12 siangan kami nyampai di Malang, kembali di penginapan. 


Secara umum, dengan biaya 250.000 per orang, Open trip kali ini memuaskan dan worth it bwanget. Murah juga. Saya dibuat kepincut dengan keindahan alam Tengger Semeru. Rasanya kurang lama memang, dalam waktu 12 jam saja. Tapi overral bisa jadi pilihan kalau ingin berlibur ke Bromo pertama kalinya. Kedepan sih, kalau dikasih kesempatan lagi, saya pengennya ngetrip mandiri dan backpackingan, sehingga bisa berlama-lama menatap panorama Bromo, dan bisa menjelajahi spot lainnya. 

Semoga menambah referensi teman-teman yang ingin ke Bromo yah, terutama untuk pembaca first timer. Yang sudah pernah kesana, semoga postingan ini bisa bikin rindu kalian akan keindahannya ya.

Thanks for reading, simak terus catatan perjalanku selanjutnya!

25 komentar

  1. Emang cakep banget nih Bromo.
    Juara banget deh.

    BalasHapus
    Balasan
    1. Sangat. Sekali seumur hidup harus kesini, bung. hehee...

      Hapus
  2. Enak banget kali ya naik kuda di dataran tinggi 😭 oke aku juga nanti akan kesana. Liat dari foto foto yang ada di postingan ini aja udah indah. Apalagi liat dengan mata kepala kaki sendiri

    BalasHapus
    Balasan
    1. aslinya lebih mantappp... tp btw itu foto tanpa efek ya.. jadi kurang lebih nggak jauh sama aslinya haha.. you better see it yourself. Smga kapan2 ada kesempatan kesana yah

      Hapus
  3. Iya Bromo cakep banget dan sudah terkenal luas sebagai tujuan wisata menarik. Kalau saya mending pakai jasa tour karena belum pengalaman piknik sendiri, takutnya malah terlantar dan ngabisin banyak biaya, hehe.

    BalasHapus
    Balasan
    1. wah iya bu bener,, perlu estimasi dan pertimbangan yang matang sebelum berlibur. thanks for visiting bu

      Hapus
  4. Murah banget mas cuma 250.000, saya waktu itu lumayan mahal. 4 orang dewasa bayar 3.5 juta tapi memang nggak dicampur sama orang lain. Mungkin karena itu jadi mahal kali ya? :""D

    Too bad waktu ke Bromo nggak main di Pasir Berbisik dan lain sebagainya, karena setelah selesai lihat sunrise, saya lelah terus yasudah langsung minta diantar pulang ke hotel saja :D ke Bromo itu salah satu pengalaman menarik untuk saya yang sebenarnya paling nggak suka naik gunung ahaha. Untung ke Bromo cuma perlu naik tangga ya mas :P

    By the way, fotonya bagus-baguuuuus sangatttt <3 paling keren yang pegang kamera di depan gundukan gunungan pasir ituuu. Hehehe. Ditunggu cerita-cerita berikutnya :D

    BalasHapus
    Balasan
    1. ya mbakk. Haha private trip itukah namanyaa...

      sbb baru aktif blogging lagi. Waaah sayang sekali, saya malah ingin lebih berlama lama haha..

      Thanks mbak. suuure. :D

      Hapus
  5. dari dulu liat photo kakak ke bromo gemes entah kapan bisa sampai kesini, btw suhu malam normal berapa yak, dan yang paling ekstrim bisa sampai minus gk ?

    BalasHapus
    Balasan
    1. kira-kira antara 4-7... wah belum pengalaman itu, dan sepertinya tergantung cuaca si. harus siap baju tebal pokoknya.
      semoga kapan2 diberi waktu kesana ya..

      Hapus
  6. Indah bangeeet
    Jadi pengen jg ke bromo huhuhu

    BalasHapus
  7. waktu itu aku juga ke bromo. emang ngangenin sih parah

    BalasHapus
  8. Menurut saya, Bromo juga tempat terbaik, tempat terindah di Jawa.. Walaupun belum semua destinasi wisata di Jawa saya datangi, tapi kalau liat di foto2 emang gak ada yg lebih indah dari Bromo.. Dan pas ke sana dulu juga langsung tersihir.. indah bgt...

    murah bgt ya open tripnya 250k.. Dulu ke sana bareng kawan orang Probolinggo, jadi dia yg ngurus semuanya. Biayanya udah lupa berapa :D ..

    -Traveler Paruh Waktu

    BalasHapus
    Balasan
    1. Betul mas, Jawa luas sekali dan banyak sekali spot indahnya. Meski saya sendiri sebenanrya lebih ingin jelajah luar jawa :D

      Hapus
  9. duuuh dari dulu pengen banget ke Bromo, semoga nanti diberikan kesempagtan kesana :')

    BalasHapus
  10. Sy baru smpe probolinggonya aja wk wk, itu jg udh lama banget,gitu aja udaranya udah dinginnya mnta ampun, sensasi naik kuda di gurun pasirnya kayaknya sama nih kayak naik onta di gurun sahara, btw ni kunbal alias kunjungan balik mas. 😀

    BalasHapus
  11. AKu pernah ke Bromo di tahun 2014 :) Anak2 masih kecil, trus kedingina gitu hihihihi. Lucunya deh tiap ke toilet berbeda tingkat, tarifnya beda2 ya wkwkwkwkwk :) emandangannya indah banget, jadi keengen lagi.

    BalasHapus
  12. Huwaaa... baca ini bikin saya ingat 18 tahun lalu kalau nggak salah pertama kali ke Bromo, kami naik bus dari Surabaya sama teman-teman.
    Turun di Probolinggo terus naik bus lagi ke Bromo, dan ya ampun sepanjang jalan mau sekarat rasanya serem liat jurangnya hahahaha.

    Pas sampai di Bromo, malamnya hampir sekarat saking dinginnya.
    Terus saya jadi pengen ngiklanin extra joss deh.

    Sumpah ya, dulu tuh belum terlalu banyak angkutannya kayak sekarang, dan you know, kami jalan kaki dong, dari Hotel apa sih namanya itu, turun ke lautan pasir, nyebrang sampai ke kaki kawah dan naik juga ke bibir kawah.

    Fyi, saya jalan 1/4 km aja mau pingsan, itu dong, sebelum berangkat disuruh minum ekstra joss sama teman-teman, ajaib!
    Saya bisa jalan kaki PP dari hotel ke kawah terus pulang ke hotel lagi.
    Setelah pulang nyampe Surabaya, saya tepar 3 hari kali baru bisa bangun hahahahahaha

    BalasHapus
  13. Foto-fotonya cakep mas! Saya kurang beruntung. Sudah bayar open trip, tapi batal karena virus corona. Tinggal kenangan deh main ke Bromo :")

    BalasHapus
  14. saya pernah ke situ pas BADAI PASIR, dan padang rumput kebakaran ... waaaaaaaaaaaaah tak seindah foto yang kamu kirim mas hehehe

    BalasHapus

Silakan beri pendapatmu tentang tulisan ini, dan bagikan pengalamanmu di komentar ya! Terima Kasih