Jalan-jalan ke Banyuwangi 4 Hari 3 Malam (Itinerary dan Tips)


*Disclaimer, catatan liburan ke Banyuwangi ini dilakukan sebelum pagebluk. Tetap lakukan protokol kesehatan jika anda bepergian di era kebiasaan baru dengan selalu jaga jarak dan #PakaiMasker

Hi! Halo. Apa kabar? Semoga sehat selalu. Senang rasanya bisa ngeblog lagi setelah sekian purnama. Saya merasa ritme menulis belakangan ini sedang berantakan nih. Akhir-akhir ini perhatian saya sedang fokus ke project lain. So, It's good to be back!

Sebelum ke inti postingan, sebelumnya, saya ingin memberikan summon dulu ke Mba Creameno. Terima kasih atas kiriman bakpianya. Mba Meno memang terkenal bersahabat di kalangan bloggers. Buat teman-teman yang senang membaca konten traveling & lifestyle, saya sangat merekomendasikan blognya. Beliau rutin sekali menulis. Kontennya juga menarik dan menginspirasi.

Setelah beberapa waktu lalu saya sharing trip ke Karimunjawa dan Malang, kali ini saya mau cerita pengalaman saya menyambangi sebuah kota yang terkenal dengan julukan The Sunrise of Java, mana lagi kalau bukan Banyuwangi.

Tulisan ini ditujukan untuk kalian yang barangkali ingin jalan-jalan ke Banyuwangi untuk pertama kali, ingin tahu tentang Banyuwangi, atau kebetulan sedang mencari rekomendasi tempat terbaik di Banyuwangi yang wajib dikunjungi.

Saya dapat japri dari kawan, wisata Banyuwangi beberapa sudah ada yang dibuka dengan protokol kesehatan. Kemana pun tujuannya, penting bagi kita untuk selalu membawa barang bawaan wajib berikut ini supaya perjalanan kamu aman dan nyaman. #PakaiMasker

New normal starter pack (via: Kompas Klasika)


AWALNYA...


Suatu hari di bulan Agustus, Ferli, seorang kawan dari grup Backpacker Nusantara, memposting ajakan jalan-jalan share cost untuk mempromosikan kota asalnya, Banyuwangi. Share cost trip ini istilah lain dari trip urunan. 

Cara ini sering digunakan kami teman-teman backpacker untuk menghemat cost terutama saat ingin menyewa perahu, sewa mobil dan penginapan dengan trip berkelompok. Dibanding open trip, saya pribadi jujur lebih suka dengan jalan-jalan gaya ini karena kita tahu rincian pengeluarannya.

Saya yang kebetulan sejak dulu ingin sekali mendaki ke Kawah Ijen, dan penasaran dengan pantai-pantai di Banyuwangi, enggak pikir lama untuk ikutan. Jadilah saya, ngegrup bersama dengan ke-7 travel mates lainnya yang datang dari berbagai kota hingga ada yang jauh-jauh terbang dari luar Jawa.

Seperti tipikal ulasan postingan saya yang lain, perjalanan saya ini juga sudah lumayan lama sebelum pandemi. Tepatnya bulan Agustus 2018. Berhubung saat itu belum aktif ngeblog berbagi pengalaman jalan-jalan, baru sempat saya tulis sekarang. Entah kenapa, buka-buka folder Banyuwangi terus jadi rindu ingin kesana lagi. Ya menuliskan random jurnal begini sebenarnya obat saya di kala rindu traveling. Huhu.

Karena ini trip lama, kalau ada perubahan, kasih tahu yah. Tapi saya pikir masih relevan kok, karena tempat wisatanya juga enggak berpindah tempat kan? :D 


Ada apa di Banyuwangi

Buat yang belum tahu dimana itu Banyuwangi, jadi Kabupaten ini berlokasi di ujung paling Timur di Pulau Jawa. Ngepol pucuk! Bagi sebagian orang, nama kota ini mungkin sering dijadikan sebagai stopover bagi yang ingin menyebrang ke Bali lewat darat via Jawa Timur. Karena letaknya yang berbatasan langsung dengan Bali.

Sebelum mbolang ke Malang, perkenalan saya dengan Jawa Timur justru dimulai dari Banyuwangi. Wah, saya akui wisata alam di Banyuwangi memang cakep-cakep! Dan memang tak kalah menarik sih dari wisata Jatim populer lainnya dan Pulau Dewata. Tak sedikit rupanya turis-turis yang mejeng di Bali sekalian singgah ke Banyuwangi karena berdekatan tinggal naik feri.

Pesona Djawatan yang viral (Photo by Risdiyan Varintis)

Sebagai pengagum alam nusantara tentu ikut gembira, akhir-akhir ini banyak yang melirik Banyuwangi sebagai primadona baru wisata Indonesia.

Ada banyak hal yang membuat saya senang datang lagi ke Banyuwangi. Kawah Ijen dengan blue fire nya yang unik dan berkelas dunia. Hutan ‘De Djawatan’ pun mulai ramai di sosial media. Yang pernah nonton Ku Lari ke Pantai, tentu tahu bahwa ada banyak pantai unik di Banyuwangi. Ada G-Land, spot yang memanjakan peselancar karena gulungan ombaknya yang kece. Tak lupa dengan Taman Nasional Baluran yang dari dulu disebut-sebut sebagai A little Africa di Jawa.

Akhirnya, kawah ijen!
Kelengkapan wisata Banyuwangi rupanya nggak cukup sampai disitu.

Yang saya suka, ternyata Banyuwangi itu salah satu kota festival terbaik. Ada banyak sekali festival budaya yang diadakan pemerintah wisata setempat. Buat kalian yang anak event dan senang menyelami kearifan budaya, Banyuwangi tentu harus masuk daftar.

Naik Kereta ke Banyuwangi

Saya ke Banyuwangi naik kereta. Karena tinggal di Jateng, waktu itu berangkat naik KA Jayakarta Premium dari Stasiun Purwokerto (tahun itu saya masih berdomisili di Purwokerto) dengan tarif 240 ribu tujuan ke Surabaya, turun di Stasiun Gubeng. Dari Pwt-Gubeng memakan waktu sekitar 9 jam. Ini kereta Ekonomi, tapi nyaman betul rasa eksekutif. KA Jayakarta Premium Ini termasuk kereta favorit sih yang pernah saya coba.

Sesampainya di Stasiun Gubeng, enggak sempat keluar kota Surabaya (duh, padahal penasaran sekali sama kota ini) saya pun langsung mengejar kereta selanjutnya tujuan ke Stasiun Karangasem yang masih memakan waktu 6 jam.

Touchdown Stasiun Banyuwangi Baru

Saya tiba di St. Karangasem (sekarang berganti nama Stasiun Banyuwangi Kota) pukul 11 pagi. Dan saya langsung jalan kaki ke homestay yang jaraknya dekat sekali. Disana pun bertemu dengan teman-teman untuk explore Banyuwangi esoknya.

Kalau mau ke Ijen dari stasiun Banyuwangi bisa sekalian sewa motor, pake driver atau bawa sendiri, ada banyak kok yang sedia persewaan di depan stasiun. Buka 24 jam karena merangkap homestay. Angkot ke pusat kota banyuwangi juga ada sampai malam.

* kereta Ekonomi termurah dari Jakarta, bisa pakai KA Gaya Baru Malam. Tarifnya Rp 104 ribu. Untuk tiket Surabaya ke Banyuwangi paling murah Kereta Api Probowangi Rp 56 ribu. Karena jaraknya yang lumayan jauh, siapkan amunisi dan energi ya karena pasti bakal lumayan cape.

Nginep Dimana di Banyuwangi?

Kalau sudah turun di stasiun Banyuwangi Baru sebenarnya tak usah bingung karena ada banyak sekali pilihan homestay terdekat atau sewa motor. Buka-buka saja aplikasi penyedia lodging online seperti Traveloka, atau Booking.com. Lalu cari yang sesuai dengan budget.

Kami menginap di Sritanjung Homestay yang hanya jalan kaki 3 menit saja dari stasiun. Dekat juga kok sama warung kalau ingin mencari daharan.

Homestay ini juga menyediakan tour ke Ijen/sewa motor juga. Tinggal tanya saja ke resepsionisnya. Mba hostnya juga sangat ramah. Rangenya pun masih terjangkau antara 80 ribuan-150 ribu permalam. Saya kira sangat recommended untuk budget backpacker.

(foto via: Booking.com)

Titik wisata Banyuwangi dari satu ke yang lain lumayan jauh. Kalau jalan sendiri atau berdua, saya sarankan sewa motor saja.

Berhubung kami ngetrip berkelompok, kami menggunakan bus elf yang kami sewa dari dana share cost trip kami. Dan juga pakai angkotan yang sudah dikoordinasi. Dengan harga patungan yang diatur sedemikian rupa termasuk sewa sopir dan tipping.

HARI - 1 di Banyuwangi (Pantai Boom, Nasi Tempong Mbok Wah)

Apa kabar Banyuwangi? adalah judul di hari pertama. Tidak banyak yang kami lakukan di hari pertama, karena diisi istirahat, menikmati suasana sekitar dan menunggu kawan rombongan yang lain yang belum tiba. Dan memang rencananya memang keesokan harinya kita mulai berjelajah.

Kami membunuh sore dengan berjalan-jalan di sekitar pantai Boom. Memang biasa saja si pantainya. Warna pasirnya kehitaman. Tapi lebar bibir pantai ini harus saya akui luas banget. Dan ada view pulau Bali dari kejauhan. Dulu waktu kesana belum dibuat caseway (jembatan pintas) yang viral itu. Kebersihannya memang perlu ditingkatkan.

Pantai Boom Banyuwangi

Kalau sedang musim festival, pantai ini sebenarnya ramai, bisa nonton pertunjukkan tari Gandrung yang biasanya diadakan disini. Ah, ingin sekali saya nonton pertunjukkan tari ini. Di pantai ini, ada juga kuda-kuda yang disewakan ke pengunjung.

Mba Ana, kawan saya, tiba-tiba memulai diskusi, “tau hutan yang mirip lord of the ring itu ngga? Jauh engga ya.” D’djawatan yang ia maksud. Itu juga salah satu wisata yang dibilang menjadi ikon Banyuwangi yang akhir-akhir ini ramai. Sayang sekali, berhubung kawan kami belum tiba, kami pun urung karena agak jauhan juga. 

Tapi ngomong-ngomong, sunset di pantai Boom ini boleh juga lho.

Sunset di Pantai Boom

Kami kemudian mampir makan di warung Nasi Tempong Mbok Wah. Nikmat sekali santap sego campur khas Banyuwangi ini. Sambalnya nendang dan gurih. Kuliner yang wajib dicoba tentunya.  Perhatian saya pun lalu berpindah ke jadwal acara sepanjang tahun yang terpajang di dinding dekat meja. Seketika saya membatin, “Wah, kotaku perasaan enggak sesibuk ini eventnya. Banyak event. Keren-keren lagi. ” Saya harus menyanjung Banyuwangi karena hal ini. Harus saya akui, dinas pariwisata setempat sangat progresif dalam mengembangkan potensi wisatanya.

HARI 2 : Jelajah pantai di Banyuwangi

It’s a beach day.
Di hari kedua ini, jelajah pantai adalah temanya. Dengan elf yang kami sewa, kami berangkat mulai pukul 6:30 pagi dari homestay Karangasem. Dua turis asal Prancis dan Bulgaria pun ikut nebeng sama kita.

Kami meninggalkan homestay dan akan kembali di hari ke-tiga karena berencana bermalam di homestay dekat Pulau Merah. 

Pantai Mustika



Pantai Mustika adalah tujuan pertama kami. Untuk sampai ke Pantai Mustika Mencer, butuh waktu sekitar 2 jam perjalanan dari Banyuwangi kota. Kami tiba pukul 8 pagi.

Pantai ini berpasir keemasan. Banyak yang bilang pantai ini menjadi destinasi yang mantap buat nyunrise. Sayangnya banget pagi itu agak berawan. Dibanding pantai Boom, pantai Mustika jauh lebih bersih. Ombaknya juga terbilang aman dan saya lihat anak-anak asyik bermain ombak. Saya pikir aman juga buat wisata bareng keluarga. Hamparannya membentuk lingkaran dan bibir pantainya luas sekali hingga 2 KM.

Pohon kelapa di tepian juga menambah suasana sejuk. Kalau ingin santap kelapa muda di kursi pantai, sepertinya mantap sembari duduk-duduk melihat debur ombak. Untuk pemandangan terbaik, datanglah di pagi hari.

Pulau Bedil

Pulau Bedil via pariwisatabanyuwangi.com

Pulau Bedil ini adalah pulau kecil yang berada di sekeliling Pantai Mustika. Sebenarnya pulau hidden gem yang cukup jarang dikunjungi sih. Kami menyambang Pulau Bedil dengan perahu yang sudah di sewa dari Pantai Musika. Sayang banget cuaca lagi mendung, ombak pun lumayan.

Sesampainya di lokasi, kami kurang beruntung karena ternyata undakannya hancur akibat terkena gempa dari Lombok saat itu. Padahal, kalau sikon baik, saya penasaran ingin mencoba masuk ke lubang trowongan laut dari bebatuan. Saya juga penasaran ingin mencoba snorkeling di terowongannya itu. Ah, mungkin lain kali.



Mengikuti arahan kang guide, kami pun langsung gas boat ke destinasi selanjutnya.

Pantai Wedi Ireng

Karena masih satu rute dengan pantai sebelumnya, boat terus melaju ke destinasi selanjutnya, Pantai Wedi Ireng. Pantai ini bagus dan unik. Ya memang pantai-pantai Selatan terbilang punya daya tariknya tersendiri. Wedi dalam bahasa Jawa bisa memiliki dua arti: takut, dan pasir. Sementara Ireng artinya Hitam. Pasir disini uniknya ada dua, ada sisi yang putih dan hitam. Meskipun saat itu ombaknya lumayan, pantai satu ini recomended!

Pulau Merah


Pulau Merah bagi saya adalah destinasi istimewa. Yang saya suka, bibir pantainya luas dan jembar banget. Ombaknya juga syahdu. Warna pasirnya putih, bersih dan terkadang tampak pink. HTM nya juga sangat terjangkau.



Senja di Pulo merah adalah pengalaman tak terlupakan bagi saya. Saya beruntung dapat momen sunrise dengan warna langit keemasan. 

Waktu masih menunjukkan pukul 5:15. Ngamatin orang-orang berselancar, asik sekali mereka. Debur ombak mulai berlari-lari dan memeluk kaki saya. Ah, Banyuwangi surprised me.

Tak sedikit dari kami yang basah-basahan bermain ombak. Duduk-duduk saja di pinggiran nikmat juga. Beneran, pemandangan di Pulo merah memang salah satu terbaik yang pernah saya nikmati. Jangan pernah skip pantai ini kalau ke Banyuwangi. Senja hampir turun. Kami balik ke homestay di sekitaran Pulo merah setelah break solat, kami pun mulai bakar-bakar BBQ-an, ngopi-ngopi dan ngobrol sampe jam istirahat tiba.

Besok, petualangan jelajah kami masih berlanjut. Di hari ke-3 dan ke-4, kami berencana mendaki ke Kawah ijen dan jelajah Pulau Tabuhan, ke Bringsing dan mencoba pengalaman asyiknya snorkeling di Pulau Menjangan Taman Nasional Bali Barat yang biru. Sampai sini dulu, teman-teman. Insha allah berlanjut ke bagian kedua. 

Pernah ke Banyuwangi dan ingin ke Banyuwangi setelah baca postingan ini? Bagikan pengalamanmu di komentar. Terima kasih sudah membaca. Jaga kesehatan selalu.  (Rifan)

3 comments

  1. Hola mas Rifan,

    Finally update lagiiiih blognya 😍 hehehe. Saya sampai sekarang belum pernah ke kawah Ijen. Ingin sebetulnya tapi sadar diri kalau saya nggak akan bisa hahahaha. Takut pingsan di tengah jalan 🤣 kata teman saya bisa sewa semacam becak yang ditarik gitu yaaaah. Cuma malu kan kalau pakai itu, nanti diledek sohibal sohibul alhasil sampai sekarang niatan ke kawah Ijen hanya jadi wacana yang entah kapan akan direalisasikan 😂

    Eniho, foto pohon Djawatannya besar bangett. Looks pretty but at the same time, magic and scary hahahaha. Saya takut lihat pohon sebesar itu mas. Pikirannya langsung melayang ke mana-mana. Di sana ramai pengunjung kah, mas? Suka sama view-nya, tapi kalau sepi saya nggak akan berani lihat 😂 maklum, keberaniannya level tiarap.

    Bicara mengenai Banyuwangi, saya sering penasaran sama kotanya. Apalagi semenjak hotel Dialoog (betul nggak ya tulisannya?) buka di sana. Banyak yang review dan bilang kalau hotelnya bagus dengan view sempurna 😍 terus kapan hari baca tulisan mengenai pantai Mustika di blog mba Ainun kalau nggak salah. Semakin menjadi~lah keinginan untuk pergi ke Banyuwangi sana. Semoga after Corona bisa yalan-yalan 😆

    ReplyDelete
    Replies
    1. hello mbak meno.
      alhamdulillah haha

      Wah, bisa ngojek kok mba. banyak yang pake jasa itu. Teman jalan saya juga ngojek via taksi gered itu karena di awal merasa ngga sanggup, e sampai puncak juga dia. Bisa ajak kesayangannya buat mendaki bersama, mba. view ijen breathtaking!

      wah syg bgt kemarin gagal ke Djawatan karena waktu terlalu singkat. Second visit harus kesana haha. Kayanya si lumayan mba. Itu foto googling by the way :D

      itu hotel yang tempo hari dikunjungi pak jkw bukan si mba? wow bgt ya kayaknya. permalamnya juga wow wwk kotanya bersih sih. progresif yang kuliat. Amiinn haha :D

      Delete
  2. saya juga lebih menyukai share cost dibanding open trip. selain lebih murah, juga lebih terasa vibe backpackernya... sayangnya susah juga nyari temen yg mau share cost, terutama ke tempat2 tertentu,, palingan ya harus rajin2 pantengin grup semacam grup fb backpacker nusantara atau semacamnya untuk dapetin info2 ajakan share cost..

    Banyuwangi ini makin ke sini makin populer yaa,, ternyata pilihan wisata pantainya banyak juga.. Menurut saya sih, Banyuwangi adalah tempat terbaik di Jatim setelah Bromo.. Sayangnya sampai sekarang belum kesampaian ke Banyuwangi..

    ReplyDelete

Silakan beri pendapatmu tentang tulisan ini, dan bagikan pengalamanmu di komentar ya! Terima Kasih