Pengalaman Backpacker ke Penang Malaysia, 3 Hari Keliling George Town



Jauh sebelum pandemi menyerang, Maret tahun lalu saya diberi kesempatan backpackingan ke Penang untuk pertama kalinya. Penang punya kesan tersendiri bagi saya karena dari kota inilah saya memulai pengalaman melancong tunggal ke luar negerpertama kali.

Untuk mengobati kerinduan saya akan momen jalan-jalan selama #DiRumahSaja, sesekali saya buka-buka foto dan video terdahulu saat menjelajah. Salah satunya juga berbagi pengalaman kilas balik traveling dengan menulisnya di blog ini. Karena pada dasarnya blog ini dibuat untuk media berbagi pengalaman ngetrip kilas balik.


Kali ini saya mau berbagi pengalaman saya solo backpacking ke Penang selama 3 hari. Dengan sedikit ulasan singkat destinasi yang saya kunjungi. Kebanyakan memang destinasi populer karena pertama kali. Semoga bisa membantu teman-teman yang barangkali usai pandemi berencana berlibur ke Penang pertama kali ya.

(Hasrat liburannya ditahan dulu ya kalau Covid-19 sudah lewat.. berdoa dan terus berusaha, semoga pandemi lekas berakhir dan kita bisa jalan-jalan lagi. Amiin)

AWALNYA...
Judulnya trip melipir. Setelah seminggu plesiran sharecost dari India  bersama senior traveler BI Namaste India ‘19 --, pesawat yang membawa kami dari Delhi pun landing di bandara Kuala Lumpur pagi hari. 

Usai santap sarapan bersama, cerita-cerita kesan jalan-jalan di India (by the way, tulisan perjalanan ke India belum kuluapkan di blog ini, insha allah segera mengisi timeline ini ya) kami pun sayonara di bandara Kuala Lumpur. 

Karena KL sudah cukup familiar (karena sering ngemper disini juga) bagi saya kenapa tidak mencari suasana baru dengan ke Penang?

Alasan lain sih karena 7 hari di India waktu itu berasa terlalu cepat. Wah, India terlalu luas untuk dikunjungi dalam 7 hari  –terlepas dari singkatnya waktu karena saking serunya. Hamdallah, bersyukur sekali kucoret juga bucketlist berburu sunrise di Taj Mahal, Semoga diberi kesempatan untuk bisa menyambangi India lagi)



Kebetulan tiket return Jakarta - KUL dari KLM kala itu memang saya lebihkan 3 hari. Saya juga dapat harga yang sangat bagus rute PP Jakarta-KL ini, 700 ribuan saja. Untuk maskapai nasional Belanda seperti KLM, jelas deals yang bagus. Ah ya, tahun lalu adalah salah satu tahun momentum terbaik saya belajar menjadi kumbara yang hobi pergi-pergi. Pekerjaan saya sebagai pegiat kreatif independen memang sedang bagus-bagusnya kala itu. Forever grateful pokoknya.


SELAYANG PANDANG TENTANG PENANG

Bersihnya jalanan penang

Barangkali ada yang belum tahu Penang itu dimana, Penang (dibaca Pinang) adalah negara bagian (state) yang terletak di barat laut Malaysia. Pulaunya juga agak mojok dari sisi Kuala lumpur. Kotanya bersih sekali, sama seperti kesan saya pertama kali ke Kuala Lumpur, kota ini juga multikultural (chinese, orang-orang India, Arab dan Melayu.) 

Sebagai kota bekas jajahan Inggris (ibukotanya saja bernama George Town--nama yang British sekali, bukan?), kota ini menyimpan banyak sejarah. Bangunan-bangunan kunonya masih terjaga, oleh karena itu didapuk oleh UNESCO sebagai situs warisan dunia. Yang suka wisata kota tua, Penang recommended. Saya tak habis pikir kalau kota ini kreatif sekali. Saya akui, pemerintah Penang cukup bagus mempromosikan wisatanya. 


Cara menuju ke Penang dari Kuala Lumpur bisa ditempuh dengan darat atau pun pesawat. Kalau teman-teman naik bus ke Butterworth bisa dicapai dalam waktu 5-6 jam. Opsi lain bisa naik kereta ETS yang ditempuh sekitar 4 jam dari KL Sentral ke Butterworh.

Paling singkat sih naik pesawat karena bisa ditempuh hanya dalam waktu kurang dari satu jam. Saya sendiri kemarin naik AirAsia KUL – PEN yang hanya merogoh 100 RM (Ringgit Malaysia) /300rbuan saja pulang pergi, Nggak jauh beda menurut saya dengan tarif kalau naik darat. 


Sudah menjadi hal umum kalau orang-orang Indonesia yang berwisata ke Malaysia, kalau enggak keliling Kuala Lumpur, bisa jadi ke Malaka atau Penang. Karena memang ketiga kota itu termasuk suguhan utama kalau berlibur. Saya sendiri ingin mengunjungi Penang karena penasaran dengan kawasan kota tua George Town dan mural art nya yang mendunia itu. Saya juga memang senang jelajah kota lama.

Tak sedikit juga orang datang ke Penang untuk berobat /medical tourism. Selain harganya terjangkau, ahli medis dan fasilitas kesehatan disana juga termasuk terkenal terbaik di dunia. Dan kulineran tentunya, karena Penang ini sudah terkenal surga bagi para pecinta foodie. Meski saya sendiri sebenarnya bukan anak kuliner banget, tapi tetap suka makan kok :D.

Baca Juga: Estimasi Biaya Jalan-jalan Backpacker ke Turki

TRANSPORTASI DI PENANG

Sesampainya di bandara PIA, ada banyak opsi ke kota. Teman-teman bisa memilih mulai dari taksi, grab atau bus. Karena melancong tunggal, jadi saya pilih naik bus bandara. Mas Win yang ngetrip bersama ke India juga, orang yang tahu banyak soal Penang, menyarankan saya untuk naik Rapid Penang Bus no. 401 yang berjajar di halte pintu bandara lalu turun di komtar. 

Komtar ini semacam terminal pusat yang juga menjadi urat nadi kota, kompleks mall, restoran, tempat hiburan dan kantor pemerintahan.  Disana bisa dibilang tertata dan bersih sekali transportasinya, on time.

Moda transportasi di penang (doc pri)

Transportasi umum di Penang terbilang sangat murah. Untuk tujuan dari bandara ke komtar hanya kena ongkos 2,6 RM- 3 RM saja (9 Ribuan). Karena kebetulan saya menginap di sekitaran George Town, saya tinggal bisa lanjut naik bus dalam kota atau jalan kaki yang jaraknya kurang dari 1 kilo. 

Selama keliling kota George Town saya juga beberapa kali menggunakan fasilitas bus gratis Central Area Transit (CAT) yang mangkal di beberapa titik. Kalau ada bus rapid Penang bertuluskan 'Free Bus', nah itu tidak salah.


Bisa ngapain saja kalau punya waktu 3 hari di penang? Nah, berikut aktifitas dan destinasi sorotan yang saya kunjungi kemarin:

1. City wandering di Penang Street Art, dan jajan streetfood


Hari pertama saya sengaja nyantai saja dahulu. Setelah beberapa jam leyeh-leyeh di hostel hingga sore, saya mulai berjalan-jalan di sekitaran Goerge Town di malam hari. 

Pemandangan malam, Penang punya ruhnya sendiri. Bisa dibilang daerah Lebuh Chulia ini cukup ramai dijadikan tempat mejeng para turis.Ah, karena memang George Town ini sudah cukup tenar di kalangan turis sih.  Di deretan jalanan inilah restoran-restoran, streetfood dan kafe pinggir jalan banyak berjajar. Seketika mengingatkan saya pada suasana jalan Braga, bedanya lebih tertib dan nggak macet.

Saya sendiri lebih gemar jelajah kota dengan jalan kaki. Dan kota ini sangat pedestrian friendly, sebuah nilai plus pastinya. 

Saya mulai penasaran melihat bagaimana penampakan mural art kalau di malam hari. Rupanya hanya beberapa kilo saja dari hostel saya. Cukup aman ternyata jalan-jalan sendiri malam-malam disana. Penang ini rasa-rasanya cocok bagi penggila street photography. Corak kotanya juga nggak membosankan.




Street art ini letaknya tersebar di berbagai titik di rumah penduduk. Bisa ditemukan di Jalan Penang, Jalan Muntri, Weld Quay, Lebuh Leith, Jalan Armenia, Jalan Ah Quee dan banyak lagi. Kadang ada yang tersembunyi di gang, ada yang keliatan di pinggir jalan raya, dan bentuknya macam-macam. 



Kehadiran Street art ini jelas menambah kesan dan corak sebuah kota. Banyak yang jauh-jauh dari Eropa datang ke Penang hanya untuk menikmati hasil karya Ernest Zacharevic ini. Saya juga termasuk orang yang tertarik akan pesonanya, ibukota yang didapuk sebagai Daftar Warisan Dunia oleh UNESCO.

Jika beruntung menemukan semuanya, kurang lebih ada 52 spot, kalau mau hunting lokasi-lokasinya bisa cek map dan titik-titiknya disini ya.


Usai coba streetfood ringan, saya pun mampir ke salah satu warung nasi kandar yang katanya paling terkenal di sebelah masjid Kapitan Keling. Nasi kandar Beratur namanya. Sudah bukan lagi rahasia kalau nasi kandar menjadi makanan khas India-Melayu yang melegenda di malaysia. 

Sesampainya di warung itu, mulai tampak orang-orang ngantri panjang. Harus saya akui, nikmat kari dan dagingnya, dan teh tariknya juga juara.

Keesokannya, saya mencoba mendatangi lagi mural-mural di jalan Lebuh Armenian. Wih, rame banget banyak yang ngantri foto. Terutama di spot-spot ini.  Musisi jalanan juga turut menghidupkan suasana kota. Memang artsy sekali kota ini.




2. Mencoba kereta funicular di Penang Hill, Bukit Bendera



Kalau mau ke Penang Hill dari daerah George Town, ambil saja rute ke arah Jetty. Bisa ambil bus No. 201 tujuan ke Bukit Bendera yang hanya merogoh sekitar 2 ringgit saja. Pastikan koinnya pas.


Biasanya bus akan berhenti di halte per 30 menit. Karena saya dari jalan Lebuh Chulia, saya hanya butuh waktu kurang dari 20 menit untuk sampai di Bukit Bendera. Menatap panorama kota menuju ke pegunungan dari bus.

Kesan tentang Penang Hill, kalau dibilang pegunungan-pegunungan banget sih nggak karena kalau boleh membandingkan sama Dieng, jaauh, dinginan Dieng. Bahkan masih terasa sedikit gerah. Tapi memang tampak hijau segar kalau di foto. Nggak tahu kalau udara paginya, pas saya lihat momen sunrisenya kok tampak sejuk. Suasana sunset dan malam sepertinya lebih seru.


Orang-orang datang ke Penang hill untuk menikmati panorama alam dari bukit penang. Saya sendiri berkunjung kesini karena ingin merasakan pengalaman naik Funicularnya karena pada dasarnya saya memang senang mencoba jenis transportasi unik kalau traveling ke luar negeri. 

Tiket untuk menuju bukit dikenakan 30 RM return. Waktu itu karena saya tiba pukul setengah 11, ngantrinya lumayan sih. 

Kereta Funicular ini katanya memiliki jalur paling curam di dunia. Menampung sekitar 100 penumpang saja dalam waktu sekitar 5 menit untuk ke puncak. Tips tipis kalau ingin dapat pemandangan bagus, bisa mencoba dengan berdiri di sisi depan. 

Tram generasi terbaru dan sebelumnya (doc pri)

Jika boleh membandingkan dengan tram di Peak Hong Kong, saya justru lebih suka panoramanya Victoria Peak di Hong Kong. Entah kenapa momen yang paling saya nikmati selama ke Penang Hill ini kok malah justru saat-saat lima menit di dalam kereta.  Apalagi pas masuk terowongannya, seru. Dan memang nanjak sekali. Tapi begitu sesampainya di atas kok saya pikir B saja. 

3. Berkunjung ke Kek Lok Si Temple, vihara tertua abad 19

Usai dari Penang Hill, saya memesan Grab untuk menuju ke salah satu kuil Kek Lok Si Temple, vihara terbesar di Asia Tenggara. Tempat ibadah yang menjadi destinasi ini menarik perhatian saya karena bisa dibilang bold sekali selama saya melihat-lihat jalanan menuju ke Penang Hill.




Memang berbeda dari kuil-kuil kebanyakan yang saya lihat. Arsitekturnya menarik. Lebih besar dan luas juga. Dari temple ini menambah kesan saya bahwa  chinese descent di Penang ini cukup kental. 

4. Masjid Kapitan Keling, Kulineran di Esplanade - Padang Kota Lama


Masjid Kapitan Keling, dibangun sejak abad ke-19 oleh pedagang Muslim India di George Town, Penang, Malaysia (doc pri)

Ada banyak sekali warung dan spot untuk berwisata kuliner di Penang. Gurney, misalnya. Saya bertemu dengan beberapa rekan dari Indonesia yang bekerja disana. Dan merekomendasikan untuk mampir ke Esplanade (Padang Kota Lama) di tepi pantai jantung kota George Town. Sambil makan-makan.

Saya mencoba pasembur, salah satu kulineran khas Penang. Rasanya mantap sih.




Penang bagi saya ibarat museum berjalan. Kalau teman-teman suka sejarah, kuliner, budaya dan seni, kota Penang tentu berkesan untuk dikunjungi. 

Kalau saya diberi kesempatan kesana lagi sih ingin mencoba wisata kulinernya lagi, karena masih banyak jajanan di Penang yang masih harus dicoba. 

Tertarik ke Penang, atau pernah ke Penang juga?

Terima kasih sudah menyempatkan waktu membaca. Semoga bermanfaat. See you on the next post!

26 comments

  1. Duh jadi rindu mau main ke Penang lagi setelah baca tulisan mas Rifan >,<

    Saya sangat suka Penang, buat saya dua kota di Malaysia yang saya suka sampai saya kunjungi berkali-kali itu Penang, dan Melaka :)) entah kenapa, senang saja jalan-jalan dan wisata kuliner di sana ~ kadang kalau sedang ingin short escape tapi nggak terlalu jauh, Penang dan Melaka saya jadikan pilihan (diluar Singapura) sebab 3 hari 2 malam dirasa cukup membuat saya puas ehehehe.

    Ohya, saya jadi ingat rasanya Nasi Kandar ~ ingat momen antri menunggu hahaha. Langganan saya itu yang Nasi Kandar Line dan Nasi Kandar Beratur. Plus saya juga suka mampir ke beberapa cafe lucu di Penang ~ well, pokoknya kalau soal kuliner, banyak banget list-nya dan mostly enak-enak :9

    Semoga si Coro cepat hilang ya mas, biar kita bisa kembali jalan-jalan :)) ditunggu cerita Namaste India-nya ehehehehe. Have a good weekend~! :D

    ReplyDelete
    Replies
    1. Akhirnya bisa posting lagi nih, mbak haha..~

      Sama, mbak. Kalau boleh milih, saya juga malah lebih suka atmosfer Penang dibanding KL. Penang kotanya nggak rush dan enak untuk selow. Betul, 3 hari sudah ideal banget buat jalnan-jalan karena emang nggak gede kotanya.

      Ah yess.. kafe-kafenya memang mantap si, old timey begitu ya bangunannya.

      AMIIIN. Nggak minta banyak mbak, selain corona lekas rampung dan bisa seru-seruan menikmati momen diluar. Suwun mbak Meno. :D Have a good weekend too!

      Delete
  2. Kayaknya Penang ini menarik juga dan nggak kalah ama Melaka ya Mas, boleh juga nih dimasukin dalam list kalo nanti udah boleh traveling ke Malaysia.

    ReplyDelete
    Replies
    1. Saya malah belum pernah ke Melaka. Siap,, kalau seneng sejarah cucok mas.

      Delete
  3. Baca tulisan mas Rifan, aku jadi pengen main ke Penang. Mau jalan-jalan sambil menikmati street art nya. Apalagi jalan-jalannya sambil makan street foods, kayaknya tambah mantap.🤭

    Eh, mas, kalau main ke sana lagi potoin jajanannya sekalian ya. Biar yang main ke mari tambah ngiler lihat gambar makanan.😆

    ReplyDelete
    Replies
    1. street foodnya memang juara.

      Nah itu kepikiran juga, nggak banyak moto makanannya mba :D yang saya coba juga nggak banyak wkw. siap! kalau maen lagi diulas dan nanti coba dilist ya :D

      Delete
  4. salah satu destinasi utama orang Indonesia kalau ke Malaysia ya..

    Saya harusnya tahun ini ke Malaysia pertama kali, tapi batal gara2 corona. Kalau untuk first timer kayanya cocoknya ke KL - Melaka - Penang yaa.. ya sekitaran tempat2 itu lah,, tapi impianku di Malaysia sebenernya ke Pulau Sipadan,, semoga bisa ke sana suatu saat nanti..

    kalau di Penang ini, aku lebih tertarik berburu street foodnya..

    -traveler paruh waktu

    ReplyDelete
    Replies
    1. iya mas. seringnya memang kesitu sih sih karena jadi main coursenya Malay.

      Wah pulau Sipadan. saya tahu ini gara-gara baca bukunya mbak Trinity. Pulau yang dulunya sempat dimiliki dan akhirnya direlakan Indonesia itu bukan ya, mas? Saya dengar malah lebih bagus kalau dikelola orang-orang Malaysia.

      Delete
  5. Penang menjadi tempat yang menyenangkan bagi wisatawan. Saya malah belum pernah ke sana ahahhahahah. Semoga pandemi lekas berlalu dan bisa mengagendakan ke sana.

    ReplyDelete
    Replies
    1. Bisa diagendakan. Amiin , mas. Udah bosen sekali dirumah ingin kemana mana :D

      Delete
  6. Wah, pas saya jalan-jalan ke Penang, saya nggak nyobain pasembur. Nggak tahu ada makanan itu di Penang. Alamat harus ke Penang lagi nih setelah pandemi berakhir.

    ReplyDelete
    Replies
    1. semacam rujak-rujakan gitu, mbak. Pedas. Siapp

      Delete
  7. AKu malah belum pernah ke Malaysia wkwkwkwk :) Baca tulisan mas aku jadi beneran pengen dan ajak suami juga anak2 kapan2 kalau liburan nanti tiba. Bersih banget ya, nyaman deh jadinya betah berlama2 di sana. Ada pemandangan mural yg keren2 buat foto2.

    ReplyDelete
    Replies
    1. Hi Bu Nurul.. maaf baru balas.
      Penang ramah sekali untuk berwisata keluarga, bu. Mural itu juga daya tarik utamanya.

      Siap semoga bisa kesana usai pandemi bu. met idul fitri.. :)

      Delete
  8. Kebetulan banget, Mas. Beberapa postingan terakhir saya juga soal perjalanan di Penang. :) Pulau ini ngangenin banget buat saya. Banyak tempat menarik yang bisa didatangi.

    Yang bikin saya masih penasaran sampai sekarang itu Balik Pulau. Kayaknya nanti mesti disediakan hari khusus buat mampir ke Balik Pulau dan duduk-duduk di pantai sambil lihat matahari terbenam.

    Kalau habis dari negara-negara mainland Asia Tenggara lain, etape Penang (dan Malaysia) berasa kayak perbaikan gizi buat saya. Karena suka gulai dan kari, tiap hari saya makan makanan India di Penang. :D

    ReplyDelete
    Replies
    1. ya bro, saya baca jugaa postingan sampean. Aseli mantape pol sih jelajah antar negara lewat darat. Kalau suatu saat ada waktu trip yang panjang saya ingin model jalan kaya sampean juga lah haha...

      Wah, gara-gara komen sampean ini saya jadi googling juga. Dari yang saya tonton di yt kayaknya Asik ya, mirip-mirip jalan di Indonesia begitu tapi lebih tata dan suasanya lebih dikelilingi pohon hijau dan pesawahan.

      Dulu pas pertama kali nyoba indian food di SG sempat ga cocok, mas. Tapi entah kenapa masakan2 Penang ini rasanya cocok semua di lidah. Karinya mantep gitu.

      Delete
  9. Dari dulu selalu pengen berkunjung ke kota satu ini, tapi belum kesampaian sampai sekarang. Kalau ga salah selain karena mural-muralnya itu, Penang juga terkenal sebagai tujuan wisata medis. Banyak banget orang Indonesia terutama yang dari Sumatera lebih memilih berobat ke Penang, karena selain layanan medisnya yang dikemas sedemikian rupa, bisa sekaligus jalan-jalan juga.

    Btw jadi penasaran pencetus ide pembuatan muralnya itu siapa ya yang pertama kali. Kreatif dan oke banget idenya untuk menjual pariwisata kotanya.

    PS. Ternyata rata-rata travelblogger suka ngutang nulis cerita perjalanannya ya. Jadi inget juga masih punya utang banyak:))

    ReplyDelete
    Replies
    1. Semoga diberi kesempatan ya mas. Penang seru dikunjungi kalau senang kota tua.


      Betul. Medical tourism terkenal disana.

      Nah, kalau pencetus utama saya belum baca2, mas. tapi karya Ernest Zacharevic memang yang paling mencuri perhatian sih.

      Haha iya, mas. Banyakan tulisan trip throwback karena akhir2 ini lagi ga kemana-mana juga heheu :D

      Thanks for visiting again!

      Delete
  10. Baca tulisan ini jadi inget kalo aku masih punya utang tulisan blog buanyak banget! Hahaha. Wajib rajin nulis nih buat bayar utang. Hehehe. Anyway salam kenal! Seneng bisa ketemu travel blogger lainnya. Follow dulu deh blognya :D

    ReplyDelete
    Replies
    1. halo mbak sintia. Salam kenal! Terima kasih sudah berkunjung..
      ya mbak. nulis obat kangen saja hehe.

      waaaah senangnya difollow travel blogger/author keren..

      Thanks for stopping by!

      Delete
  11. Berkali-kali ke Penang nggak pernah bosan. Selalu dan selalu ke Pasar Ayer Itam di bawah Kek Lok Si untuk makan Asam Laksa paling legendaris se-Penang ehehe. Meski berkali-kali ke Penang, tapi nggak pernah ke Penang Hill ahaha. Pernah ke sana hanya sampai di loket tiket saja, dan urung masuk. Antreannya mengular panjaaaaaaaaaaaaang.

    Duh pengen balik Penang lagi makan Asam Laksa :D

    ReplyDelete
    Replies
    1. wahh malah nggak kesana dulu saya, mas alid.
      Noted deh kalau ke penang lagi mau fokus makan-makan haha.

      betul, antriannya panjang bgt yg bikin males.

      Delete
  12. Boleh juga nih Penang kunoted. Banyak lokasi keren juga ternyata ....
    Aku naksir sama lukisan muralnya :)

    ReplyDelete
  13. Ini yang didatengin sama banget sama saya pas ke Penang duluuu tahun... tahun berapa lupa wkwk. Tapi saya gak ke Masjid Kapitan Keling. Dan seru ya kamu coba transportasi lokalnya, apalagi bus gratis. Saya ke sana naik mobil dari KL bareng teman-teman, jadi gak ada naik kendaraan umum sama sekali. Duh jadi kangen Penang euy! Kangen makan tumis gurita sama mi gorengnya..

    ReplyDelete
  14. Penaaaaang, aku kangeeeen :D. Kuliah di sana 4 THN, dan aku ga ada balik ke Indo sekalipun pas di sana :p. Saking betahnya. Jadi papa trus yg bolak balik ke Penang :D.

    Dibanding KL, Penang lebih aku anggab kayak rumah kedua :). Sebelumnya aku rutin balik ke Penang tiap THN.tp sejak 2016 aku udah ga balik LG ksana, Krn jdwal trip dan kesibukan kantor waktu itu. Skr malah pandemi. Tp udah janji Ama anak2, selesai pandemi aku bakal ajakin mereka ke sana, biar bisa liat kampus maminya dulu :D. Aku punya niat, anak2 pgn aku sekolahin ksana juga supaya lebih tenang hahahaha. Lagian buat sekolah di Penang jauuuh LBH murah daripada JKT :). Itu juga alasan papa dulu ngirim aku dan adek2 sekolah ksana.

    Ga akan bosen lah kliling Penang. Aku belum sempet jelajah pulau tikus pas di sana :). Maklum pas kuliah LBH banyak di sekitaran kamus aja jelajahnya mas :D

    ReplyDelete

Silakan beri pendapatmu tentang tulisan ini, dan bagikan pengalamanmu di komentar ya! Terima Kasih