[Book Review] Great Expectations, Charles Dickens


"Suffering has been stronger than all other teaching, and has taught me to understand what your heart used to be. I have been bent and broken, but - I hope - into a better shape.” - Charles Dickens
Great Expectations adalah karya pertama dari Charles Dickens yang saya baca, salah satu sastrawan Inggris terpenting di era Victoria. Terbit pertama kali pada tahun 1861, yang juga tersaji dalam cerita bersambung di koran mingguan pada masanya. Sekarang tahun 2020, dan saya masih memegang buku ini, membacanya, juga mengulasnya. Saya sendiri juga sedikit heran, mungkin inilah kekuatan sebuah karya masterpiece yang akan terus hidup menjadi bagian dari peradaban.

Novel ini sepertinya akan menjadi pengantar saya untuk membaca klasik esensial lainnya, selain Jane Austen, J.R.R Tolkien, Émile Zola dan Sir Arthur Conan yang sudah terjajar di rak. Kalau punya rekomendasi lainnya, bisa berikan komentar di bawah ya, kawan.

Tadinya saya membaca ini tanpa menaruh ekspektasi sedikit pun. Dan kurang tahu banyak soal Dickens. Asal pilih saja. Juga tidak mengira akan bertahan hingga halaman terakhir, karena sempat membatin apakah masih relevan dengan situasi sekarang. Dan rupanya saya bisa nyantol sama jalan cerita dan karakter-karakternya yang kuat. Mungkin juga karena novel ini hadir di saat yang tepat bagi saya di usia 20-an sehingga menemukan kepuasan tersendiri.


Saya mendapat buku ini dari toko daring yang dijual murah. Buku-buku klasik yang usianya sudah ratusan tahun kebanyakan memang sudah tersedia di internet. Novel ini juga bisa kita unduh secara gratis dan legal karena sudah termasuk kategori public domain, suatu karya yang sudah habis masa hak ciptanya.

Kalau kamu tertarik membaca e-booknya, bisa diunduh disini ya. Sayang sekali versi terjemahannya belum bisa saya bagikan disini karena masih berhak cipta. :D

Sinopsis 

Membaca “Great Expectations”, kita akan bertemu dengan karakter-karakter menarik yang bagi saya memorable. Tentang autobiografi Pip, seorang yatim piatu yang dari kecil tak pernah mengenal orang tua. Ia hidup miskin bersama kakak perempuannya yang suka berlaku kasar padanya. Lingkungan yang kurang mendukung membuat Pip tumbuh menjadi pribadi yang minder dan sulit berkembang. Pip berkawan dengan Joe, suami sang kakak yang bekerja sebagai seorang blacksmith -ahli besi, yang darinya ia mendapat kasih sayang seperti seorang ayah sendiri.

Merasa bosan dengan hidup miskin yang begitu-begitu saja, Pip mendambakan perubahan. Ia bercita-cita ingin menjadi pria terhormat. Suatu ketika Pip kecil diundang oleh seorang perempuan lajang tua kaya raya, Miss Havisham, yang selalu murung di kamar. Miss Havisham pernah ingin menikah, tapi gagal, sehingga ia tetap mengenakan gaun pernikahannya yang lusuh. Karena itulah ia begitu amat membenci para pria, sehingga ia mendidik Estella, anak angkatnya, agar menjadi seperti dirinya. (Menurut saya, Miss Havisham ini memang karakter yang paling unik!)

Di rumah besarnya Miss Havisham, Pip pun bertemu dengan Estella. Ia naksir padanya karena kecantikannya yang menawan. Hanya saja, Estella adalah gadis yang kolot, sombong dan angkuh. Dan Pip berharap suatu saat ingin memenangkan hati Estella.

'I loved her against reason, against promise, against peace, against hope, against happiness, against all discouragement that could be.'

Suatu ketika ia diberitahu akan menerima sejumlah warisan besar dari seorang misterius. Pip begitu berharap ini akan menjadi kesempatan untuk menunjukkan dirinya menggapai kehidupan yang ideal. Ia bertumbuh. Lalu ia pindah ke London untuk belajar menjadi gentleman dan inilah momen dimana kesetiaan Pip diuji, sampai pada suatu titik dimana ia menemukan siapa jati dirinya.

Baca juga: Review Buku Haruki Murakami - Norwegian Wood

Komentar Saya

Saya menikmatinya. Ceritanya sangat seru. Misterinya juga seru. Plot twistnya mengejutkan dan sukar ditebak. Pesannya bijak. Tentu saja, elemen roman yang sangat elegan dan classy dikemas dengan karakter-karakter apiknya. Settingnya di Inggris jadi kita berasa diajak jalan-jalan ke Inggris dan London di era abad ke 19.  Yang belum terbiasa membaca klasik, mungkin akan menemukan buku ini sedikit menjemukan dan bertele-tele. Halaman versi terjemahannya saja sekitar 680 an dan cukup tebal. Tapi kekuatan kejutannya ada di halaman terakhir tiap bab sehingga membuat saya penasaran.


Dari novel inilah saya juga tahu betapa british culture saat itu begitu kental, misal seperti budaya table manner saat Pip diajari bagaimana tatakrama makan yang baik ala gentleman.  Dan dari sini juga saya bisa tahu, ternyata problem kelas dan status sosial sudah ada sejak dahulu.

Source: dramaticarts.usc.edu

Charles Dickens memang piawai sekali menulis diksi yang indah. Kalau membaca versi Bahasa Inggrisnya, lebih terasa memukau keindahan prosanya dibanding terjemahannya. Saya membaca keduanya, bergantian tergantung mood, karena kadang bahasa Inggrisnya sangat vintage dan asing di telinga.

'I must be taken as I have been made. The success is not mine, the failure is not mine, but the two together make me.'

Yang membuat saya terus membaca sampai akhir tentu saja jalan cerita Pip sendiri, saya menaruh simpati dan bisa merefleksikan diri saya lewat dia. Saya tadinya berusaha menebak-nebak tentang misteri tentang siapa yang menjadi  patron yang memberikan warisan kepada Pip, begitu tahu jawabannya, saya dibikin kecele. Bagus sekali twistnya.

Lalu bagaimana cara pandang Pip saat menaruh hati dan gengsi kepada Estella. Saya bisa paham kenapa dia bisa bersikap ambisius seperti itu. Tentang pergulatan batin yang ia rasakan, dan mimpi-mimpi yang ada di kepalanya. Persahabatannya dengan Joe tentu saja menjadi hal yang esensial dan memiliki banyak makna. 

'life is made of ever so many partings welded together..'
Beberapa orang mungkin banyak yang terlena oleh ambisi, kekayaan, gengsi dan tuntutan sosial. Dan Pip belajar memahami itu semua. Ini adalah sedikit dari poin-poin penting yang bisa saya tangkap kenapa buku ini masih begitu relevan di era sekarang. Apa sih hal yang membuat seseorang merasa bahagia? Apakah menjadi sukses dan kaya itu cukup? Bagaimana dengan kekuatan persahabatan, cinta dan kesetiaan? Hakikat gentleman itu orang yang seperti apa? Lewat novel ini, kita bisa memahami makna kebahagiaan ternyata bisa sesederhana itu.

'You are in every line I have ever read.'

Begitu sampai pada halaman terakhir, perasaan saya campur aduk. Sedikit sedih, sedikit hampa, sedikit manis, sedikit bahagia dan terharu. Tapi sejauh ini buku ini merupakan salah satu klasik terbaik yang saya baca. Beruntung sekali bisa mengoleksi dan membaca klasik ini. Saya merasa senang menjadi bagian dari suatu karya esensial yang dikenang dari generasi ke generasi, juga karena merasa menemukan pencerahan karena kepadatan isinya. 

5 Bintang untuk buku ini! Kalo kamu suka cerita petualangan, cerita misteri dan roman, cerita coming-of-age dan penemuan diri, novel Great Expectations ini masuk rekomendasi. Suka atau pernah membaca fiksi klasik? Bisa bagikan pengalamaan membacamu di komentarnya ya. Terima kasih sudah membaca ulasan ini. Sampai ketemu di ulasan buku selanjutnya!

18 comments

  1. Hallo mas rivan kunjungan ke sekian di blog ini tapi baru kali ini aku komentar, hehe

    review yang apik sekali Mas..

    Aku turut menikmati bagaimana penggambaran London tua yang begitu khas dengan segala culture Britishnya, biasanya setting era dan tempat seperti ini aku temukan pada buku-buku kriminil karya Oma Agatha Christie atau Opa Sir Arthur Conan Doyle.

    Oh ya, Mas kalau Sir Arthur Conan Doyle sudah baca the Hound of the baskerville belum? Aku pikir judul tersebut merupakan salah satu masterpiece dari Sir Arthur Conan Doyle.

    Kalau buku Dickens jujur belum pernah baca sih, namun sering ngeliat di rak lapak buku tua atau rental comic dan buku langganan (dulu ketika aku masih kuliah). Ternyata bagus juga ya, semacam sudah melegenda macam Stephen King atau yang lain. Tapi kalau buku luar aku memang prefer buku thriller, konspirasi, dan spionase Mas. Misalnya bukunya Borris Starling, Thomas H. Cook, Dan Brown, dll (sementara baru segitu dulu sih bacaanku dan pas mampir ke blog ini, lumayan lah dapat referensi baru lagi soal buku-buku siapa saja yang sekiranya must read!, hehe).

    Mengomentari sedikit soal sinopsisnya, sepertinya aku mulai tertarik pada saat penjabaran tokoh Miss Havishamnya. Ndilalah kok dia bernasib malang as lajang tua. Karakternya unik, mungkin sedikit kolot dan judes barangkali ya, sehingga akhirnya mau menanamkan paham yang sama kepada Estela, putri angkatnya utamanya ketika berurusan dengan laki-laki. Tapi yang paling uniknya adalah mengapa ada bagian Miss Havingham yang selalu mengenakan baju pengantin, walaupun sudah lusuh? Bisa dikaji secara psikologis sih ini.

    Tapi memang era-era cerita klasik kadang agak terpengaruh sedikit ga sih sama cerita dongeng, yang tiba-tiba saja ada orang dari antah berantah kasih warisan segambreng, hehe.. mungkin ini bagian pentingnya kali ya yang berhubungan dengan ending, kalau menurut firasatku sih maybe orang tersebut adalah orang tua kandung Pip (mungkin, just tebak tebak buah manggis aja, heheheh)

    ReplyDelete
    Replies
    1. Menurutku mbak mbul, Miss Havisham tetap memakai baju pengantin untuk peringatan dirinya bahwa semua laki-laki itu tidak dapat dipercaya.

      Kalo tidak salah aku pernah baca ceritanya seperti itu tapi bukan novel karangan Charles Dickens ini. Jadi ceritanya dia menunggu pengantin laki-laki saat momen pernikahan, ternyata yang ditunggu tunggu tetap tidak datang sehingga ia menjadi bahan tertawaan tamu undangan. Untuk itu dia selalu pakai gaun pengantin untuk mengingat sakit hatinya.

      Delete
    2. Halo mbak mbul! matur suwun sudah ninggalin jejak disini. Komentarnya broad banget. Haha

      Makasih, mbak. Bikin jadi semangat update nih,,

      indeed, setting di klasik memang kece sih. dan legendaris. Belum pernah baca Agatha Christie karena bisa dibilang lebih suka film horor/crime di Tv dibanding buku.

      Beluuum. karena baru banget nyoba baca klasik haha. Yang saya koleksi baru sherlock holmes. dan masih currently reading. Thanks rekomennya mbak.

      Iya, Dickens memang jagonya nulis prosa yang kritik keadaan sosial saat itu. ada elem horor dan gothic nya juga sih sedikit.

      Miss Havisham ini karakter ikonik memang.. dia sebenanrya antara jahat dan baik..atau keduanya. Tapi bener kata mas Agus. sudah terlanjur patah hati jadinya begitu,

      tapi menurut saya disini nggak yang tiba-tiba banget sih dan dongeng si, masih logis ceritanya. gak bisa spoiler disini mbak,, bisa baca saja selanjutnya.

      Thanks for your comment! :D

      Delete
  2. Jujur saja saya baru tahu pengarang Inggris bernama Charles Dickens, kenalnya ya J.R.R Tolkien, dan Sir Arthur Conan. Mungkin karena karya keduanya itu sudah sering di buat film kali ya.

    Memang kalo tidak salah dulu di Inggris ada tradisi table manner yaitu tata krama di meja makan pada abad 19. Kalo sekarang mungkin sudah berkurang kali, tapi masih ada terutama untuk keluarga bangsawan atau kerajaan.

    Inginnya sih download yang sudah ada bahasa Indonesia saja mas Rivan, soalnya tidak paham bahasa Inggris, kalo ada sediakan dong link download nya.��

    ReplyDelete
    Replies
    1. saya juga baru tahu mas karena masih coba-coba klasik. Haha. Iyap. Juara sih mereka.

      haha. siappppp...email saya saja mas. wk

      Delete
    2. Mau kirim email tapi tidak tahu alamat emailnya mas Rifan, lihat di profil blogger tidak ada.😂

      Delete
  3. Kuingat-ingat sekilas baca judul bukunya Great Expactions dan lihay cover bukunya, sepertinya aku pernah membaca buku ini ...
    Dan swtelah baca reviewnya, memang benar aku pernah membacanya.
    Seru memang alur ceritanya.

    Karya Charkes Dicken menurutku selalu berhasil bikin karya apik.

    ReplyDelete
  4. Kisah Pip di Great Expectations ini getir banget. Dari awal sampai akhir, pas baca buku ini saya kayak lihat gambar-gambar kelabu. Kadang nggak tega buka halaman selanjutnya karena takut Pip bakalan kenapa-kenapa, takut kalau harapannya tiba-tiba ambyar.

    Ini kayak semacam kritik sosial yang disampaikan lewat medium sastra. Dickens semacam ngasih wejangan kalau apa yang di permukaan itu nggak (selalu) sama dengan yang di dalam.

    Nice review, Mas Rifan. :D

    ReplyDelete
    Replies
    1. ikr? waaah akhirnya, ada yang baca juga. Haha. Betul banget. Pip ini yang bikin buku ini jadi melankolis. Dia muda dan penuh ambisi, jadi kadang-kadang wajar mengenai keputusan yang ia lakukan. Asli waktu dia kembali ke Biddy, duuh.. Nyesek banget. lagi-lagi kena harapan palsu. Bias endingnya tapi entah kenapa saya suka.

      Betul bung. Dickens ini bapaknya dulu dipenjara karena masalah ekonomi juga jadi tema2nya kebanyakan tentang ketidakadilan sosial ya. keren sih.

      thank youuu

      Delete
  5. Wow... Tahun 1861 dan masih tetap menarik untuk dibaca saat ini di tahun 2020. Artinya novel ini sungguh sebuah masterpiece yang sangat menarik.

    Jadi penasaran untuk membacanya, tapi versi terjemahan aja, karena bahasa inggrisku kurang bagus.

    ReplyDelete
    Replies
    1. indeed, mas.

      ada pak, terjemahan versi qanita, itu yang saya baca juga. Cukup bagus penerjamahannya.

      Delete
  6. Waaah mas Rifan ini bahasan bukunya berat-berat dan berbobot, salut saya :D ditambah penjabarannya yang detail, membuat saya sedikit paham akan ceritanya meski harus baca dulu seluruh isi bukunya agar betul-betul paham yang mas Rifan maksudkan.. soalnya saya pribadi sudah lama sekali nggak baca buku novel dan sejenisnya. Paling terakhir baru selesai baca Outliers, itupun butuh waktu lumayan lama sampai tamat :))))

    By the way kalau mas Rifan suka koleksi buku selain novel kah?

    ReplyDelete
    Replies
    1. haha.. iya mbak saya memang pembaca fiksi dan dulu sekolah sastra. wah, nonfiksi ya mbak itu Outliers? pengarangnya kayaknya terkenal juga tuh.

      Sejauh ini di rak pribadi saya 90% buku2 fiksi mbak :D

      Delete
  7. Saya familiar dengan nama Charles Dickens, kayaknya masih suka intip-intip pas main ke Books & Beyond atau mana gitu ya. Kisah Pip dan tokoh lainnya kelabu ya, apalagi setting-nya di London. Eh tapi Mas, di novel ini, London sudah digambarkan kelabu belum ya?

    ReplyDelete
    Replies
    1. wahh, books &beyond itu toko onlen favorit saya juga tuh.

      di buku ini digambarin London abad 19 masih agak kotor mbak, di beberapa kutipan bilang pas pip mampir kesana kesannya malah dibuat kecewa yang katana kota pusat peradaban tp malah kotanya berantakan dan sempit.

      thanks for stepping by!

      Delete
  8. Bacaanmu mantap juga ya, Mas? wgwgw

    saya sudah sekian lama nga baca buku nih, jadi inget, ada banyak buku yang belom terbaca.

    ReplyDelete
  9. Buku2 Charles Dickens dulu koleksinya papa, dan skr msh ada, tp di rumah nya di Medan. Sementara aku jrg balik ke Medan. Tapi rasanya, kalo nanti balik, aku bakal pinjem beberapa bukunya utk bacaan di JKT hahahahah.

    2 buku Charles Dickens yg udh aku baca , itupun terjemahan cuma Oliver twist dan a Christmas Carol. Aku sukaaa cara Dickens membuat alur ceritanya, dan berasa banget emosi juga ikut diaduk2.

    Kamu udh baca Oliver twist mas? Itu juga ttg perjuangan anak laki2 di zaman revolusi industri di Inggris. Berasa sedihnya dapet banget sih.

    Aku mau cari buku2 dia yg lain, yg dlm bntuk fisik. Krn jujur aja mataku ga terlalu kuat baca cerita yg terlalu tebel dlm bntuk e-book :(. Harus buku fisik.

    ReplyDelete

Silakan beri pendapatmu tentang tulisan ini, dan bagikan pengalamanmu di komentar ya! Terima Kasih