[Book Review] Norwegian Wood, Haruki Murakami


Norwegian Wood menjadi buku pertama yang saya rampungkan di tahun 2020. Sekaligus menjadi perkenalan saya dengan Haruki Murakami, pengarang masyhur asal Jepang yang karya-karyanya selalu mencuri perhatian dunia, dan cukup sering diperbincangkan di Indonesia. Oh ya, ini menjadi Novel kedua yang saya review di blog ini. Karena masih anyar jadi pengulas, jadi harap maklum ya kalau mengulasnya agak ngasal. :D

Baca juga : Book Review, Cantik Itu Luka - Eka Kurniawan

Akhir-akhir ini saya memang sedang menyukai bacaan sastra klasik dunia, ini menjadi salah satu cara juga ‘berjalan-jalan’ selain traveling. Sewaktu jelajahi Goodreads dan akhirnya memutuskan untuk membeli novel ini, saya punya naluri baik kayaknya bakal cocok dengan gaya kepenulisan khas Murakami. Meski terbilang kurang dini, beruntung akhirnya bisa tahu Murakami lewat novel ini, dan sepakat kalau beliau merupakan salah satu pengarang dunia yang esensial di abad ini.



Banyak yang bilang aliran magical realism nya yang aneh-aneh, tapi versi terjemahan 426 halaman Norwegian Wood ini tidak begitu berat kok dicerna secara bahasa (kalau bicara topik, jujur bukan isu yang bisa diajak bercanda), lebih seperti kisah drama anak muda, kisah sehari-hari, yang terkesan hidup dan nyata. Karena mengangkat kehidupan sehari-hari, di beberapa aspek masih relatable, meski terkadang juga tidak. Bagaimana kesan begitu usai membacanya? Puitik, romantis, indah, vulgar, liar, bikin merinding dan juga tragis.

Novel ini begitu populer dan membuat nama Murakami sebagai author kebanggaan Jepang yang mendunia (Pasalnya, Murakami malahan nggak begitu menginginkan novel ini ini sebagai karya terpandangnya). Novel ini sudah terbit di Jepang sejak tahun 1987, fenomenal hingga kini, dan saya pikir pasti sudah banyak juga dari kalian yang sudah membaca atau paling tidak mendengarnya. Ternyata di tahun 2010 pun sudah difilmkan dengan judul yang sama, meski saya belum minat menontonnya.

Tentang ‘Norwegian Wood’
Singkatnya, Norwegian Wood berkisah tentang Toru Watanabe, anak laki-laki introvert yang super pendiam, kutu buku, dan low key. Begitu mendengar lagu ‘Norwegian Wood’ karya The Beatles, ia terjebak nostalgia pada masa-masa ketika dia menjalani hari-hari sebagai mahasiswa di Tokyo pada 1960-an. Ia terkenang akan cinta pertamanya, Naoko, gadis yang juga punya gejolak dan masalahnya sendiri, yang juga merupakan kekasih sahabat dekat Watanabe yang sudah meninggal, Kizuki.

Karena suatu kejadian di masa lalu, Naoko sempat berada dalam posisi yang rentan secara mental dan sulit move on, terus berjuang melawan depresi, sehingga ia memilih untuk masuk ke sebuah pusat relaksasi (bukan rumah sakit jiwa, tapi semacam pondok untuk pusat detoksifikasi) di sebuah desa terpencil, disana dia pun bersahabat dengan Reiko, wanita 30-an yang memiliki masalah yang serupa dan masa lalunya sendiri.

Bagaimana pun, karena saking sayangnya, Watanabe masih terus berhubungan dengan Naoko lewat surat, dan juga mengunjungi ke pondoknya sesekali, sesuai dengan batas dan aturannya. Lalu ada juga Midori, gadis yang tak kalah cantik dan bisa dibilang mbeling, hadir dalam kehidupan Watanabe, ia juga menyukainya, lalu membuatnya terjebak dalam masalah yang tidak sekedar cinta segitiga.

Bicara Kematian, Depresi dan "Free Love"

Isu kesehatan mental memang akhir-akhir ini sering menjadi perbincangan. Membaca Norwegian Wood, saya menemukan hal yang terkadang bikin saya bergidik ngeri dan sedih, tentang bagaimana kultur di Jepang yang menganggap bunuh diri di kalangan anak muda sebagai hal yang biasa-biasa saja. Tentu ini menjadi premis dalam Norwegian Wood yang membuat novel ini tidak hanya sekedar ‘romance tragedy’, cinta segitiga atau patah hati ditinggal pacar.

Membaca novel ini, kita bisa menemukan sebuah kajian suicide study dan belajar memahami bagaimana depresi menyerang lewat karakter-karakternya yang muda, rentan dan penuh gejolak.

Kita bisa belajar bahwa karakter dalam cerita terbagi melalui dua kategori, bagaimana yang satu melanjutkan untuk tetap memilih hidup dengan cinta, sementara yang satu terjebak dalam “the dark force” dengan memilih untuk menanggalkan nyawa. Perihal kematian, Murakami menulisnya dalam buku ini:
“Death is not the opposite of life but an innate part of it. By living our lives, we nurture death.”
Seolah mengajarkan kita seberapa pelik masalah dalam hidup, tidak ada alasan untuk memilih mati, karena dengan menjalani hidup pun kita juga sudah nurture kematian. Biarkan kematian menjadi hal yang natural.

Lebih jauh, kita juga diajak berjalan-jalan ke Tokyo, menyelami dunia gelap anak muda dan pergaulan bebas disana. Bagaimana karakter yang hobi gonta-ganti pasangan, seks bebas, nyari cewek di club, kadang sempat membatin, “Watanabe ini kan introvert dan pendiam ya, hanya karena diajak temennya kok bisa-bisanya jadi kayak Don Juan yang bisa main perempuan dan tidur seenaknya sama siapa saja?

“di tahun 60-an di Jepang sudah sebebas inikah dalam urusan seks?” atau beberapa yang bikin saya mikir, “Apakah cewek-cewek pada masa itu se-pasif itu?” Ya, semacam itulah yang ada di benak saya begitu membaca novel ini.

Kegiatan sehari-hari Watanabe yang digambarkan disiini sederhana-sederhana saja, seperti ngekos, nyuci baju, kerja part-time, masuk kuliah, jatuh cinta, makan di kafe, introversion dan tentang persahabatan. Ini bagian yang mungkin relateable bagi pembaca.

Lagu “Norwegian Wood” menempati posisi yang spesial dalam novel ini, dan memiliki alasan kenapa lagu memiliki backstory nya sendiri. Sepertinya Murakami ini memang penggemar musik barat, sesuai dengan latarnya pada tahun 1960-an, saya menemukan cukup banyak western pop reference 60-an disebutkan disini.

Ini novel dengan judul dari lagu yang sama, yang pertama saya baca. Sebagai penikmat lagu, saya bisa tahu bahwa sebuah lagu juga menyimpan kenangan dan cerita. Usai baca ini, saya jadi tiba-tiba ubek-ubek album klasiknya The Beatles. Dan menikmati beberapa track yang saya sukai.

Meski ini minor, hal yang juga saya sukai adalah penggambaran latar Tokyo dan kota-kota cantik di Jepang, membuat saya juga seolah ikut traveling kesana. Apalagi saat Watanabe dan Naoko 'walking tour', naik kereta, makan soba di restoran, suasana pertokoan di Tokyo, saat bersama Midori memasak sendiri di rumah, dan sebagainya. Sebagai orang yang dua kali gagal ke Jepang, saya merasa semakin terbawa suasanya. Ueno Park, Kyoto, Kobe, Nara dan rusanya, Sakura, musim dingin. Mendengar nama-nama tadi, jadi terasa sekali ya suasana Jejepangan nya?

Kesimpulan
Saya pernah ngetweet kalau saya kurang menyukai sampulnya yang seperti buku mata pelajaran sekolah yang boring, tapi itu tidak menjadi pengaruh, dan saya tetap melahap novel ini. Ada momen dimana kita bisa relate dengan karakter-karakternya, terkadang juga tidak. Ada momen yang membuat kita untuk 'ngertiin' keluh kesah seseorang.

Saya tiba-tiba juga merasakan throwback sendiri ke masa-masa kuliah. Seperti yang saya bilang, gaya berkisah Murakami ini menarik. Penggambaran suasana dan latar ala Murakami ini nikmat. Ibarat ada sebuah lukisan, Murakami bisa membuat seseorang menikmati lukisan tersebut lewat kata-kata, bisa membuat orang buta turut melihat dan merasakan lukisan tadi jadi tahu perihal rasa, warna, tekstur, atau bidangnya.

Norwegian Wood secara garis besar masuk dalam kategori coming-of-age novel. Bacaan YA yang saya pikir cocok untuk kita-kita yang berusia 20-an. Ya, harus saya akui juga, masa-masa menuju dewasa adalah masa yang bisa terbilang penuh lika-liku.

Overral, saya memberi skor 8 dari 10. Setelah ini, saya masih ingin membaca karya Murakami lainnya. Sudah membaca juga? berniat membaca atau skip karena membaca review ini? Tinggalkan komentar di bawah ya. Nantikan ulasan buku lainnya di blog ini. Thanks for reading!

26 komentar

  1. Biarpun saya suka membaca, tetapi saya belum pernah membaca buku karya Murakami. Mungkin alasan saya sampai dengan hari ini karena kesannya buku beliau berat dinikmati. Tapi setelah membaca resensi di sini, saya semakin pengen baca buku beliau.

    Oya, biar dikata ini resensi kedua di blog ini, saya suka bagaimana menggambarkan bukunya. Mendalam dan punya kesan santai pas dibacanya. Patut ditiru nih bagaimana menulis dengan storytelling begini.

    BalasHapus
    Balasan
    1. Bisa coba, bro. Diawali dengan ini.. Nggak njlimet2 bgt kok.

      wah, terima kasih,. it means a lot, din. moga makin niaat ngereviewnya,, haha.

      Hapus
  2. Saya belum pernah baca buku ini, tapi saya bisa related soal suicide yang sepertinya normal di Jepang. Kebetulan saya stay di Korea (which is negara dengan peringkat pertama suicide di dunia), dan mostly orang-orang KR percaya bahwa ada after life jadi ketika mereka merasa gagal pada dunia yang sekarang, mereka pikir mungkin mereka bisa memperbaiki hidup mereka di hidup yang akan datang~

    Selain itu karena mereka juga nggak banyak yang memeluk agama, jadi mereka nggak punya pegangan atau kepercayaan bahwa Tuhan (Allah) ada untuk kita dan kita bisa berserah pada-Nya serta menceritakan masalah kita pada-Nya. Untuk orang-orang yang nggak punya pegangan agama, bagi mereka pegangan mereka adalah diri mereka sendiri. Jadi ketika mereka nggak mampu lagi mengandalkan diri mereka, maka mereka akan depresi dan akhirnya mengakhiri hidup mereka masing-masing. Saya pun sering sedih kalau baca berita anak sekolah gagal lulus ujian lalu suicide, atau orang dengan berbagai masalah yang sebenarnya di negara kita itu masih normal, tapi mereka pilih untuk berakhir saja hidupnya :<

    By the way, jadi penasaran sama buku ini juga karena judulnya connect sama The Beatles. Meski lagu mereka yang saya tau cuma Hey Jude dan Obladi Oblada :P

    BalasHapus
    Balasan
    1. Thanks for sharing your thoughts, mba.. Pwanjang tapi berisi. Semoga bisa nambah point of view juga ya.

      Samaan, sebagai milenial, saya tahu The Beatles juga yang populer2 saja,, emang suka klasik sih sebagai selingan saja nyari2 referensi, apalagi saya terkadang bosen sama musik-musk sekarang hehe.

      Once again, thanks for sharing mba..

      Hapus
  3. Karena sejak dulu di Jepang bahkan bunuh diri merupakan sebuah kehormatan ya.
    Hiii tapi serem juga sih, masa iya pakai bunuh diri karena putus cinta?

    Btw, sungguh pengetahuan saya tentang buku sangat cetek, karena jujur saya bahkan baru dengar Haruki Murakami :D

    BalasHapus
    Balasan
    1. Iya begitulah kira-kira dari legendanya. Tapi yang satu ini lebih ke masalah depresi dan mental health issue sih mbak, yang mana isu yang sedang sering ramai diperbincangkan publik.

      Senang bisa menambah referensi mbak rey. :D

      Hapus
  4. Ini buku Murakami pertama yang saya baca. Bela-belain banget dulu kelaparan akhir bulan cuma buat beli Norwegian Wood di Periplus. Hahaha. Abis baca Norwegian Wood, saya jadi nyantol sama Murakami.

    Teman saya bilang, tantangannya baca buku Murakami itu di 100 halaman pertama. Soalnya isinya cuma background tokohnya doang. Gimana kehidupan sehari-harinya, dsb. Tapi, kalau berhasil melewati 100 halaman itu, kita bakal dibawa ke dalam petualangan seru.

    Anyway, sejauh ini, favorit saya itu trilogi Wind, Pinball, dan A Wild Sheep Chase.

    BalasHapus
    Balasan
    1. Wah iya kah? Ending nya agak kurang ya, bro. Wah oke nih, belum pernah beli di periplus, kayaknya bisa nih kapan2 nyari buku impor langsung dr luar.

      Exactly! Betul,, 100 halaman pertama karena ceritanya masih sehari2 yg kadang relate sama keseharian, untung sy betah.. Heran ya, Murakami hobi bgt bahas loneliness dan depression..

      Waah, belum baca semua mas. Ini malah baru mulai Colourless Tsukuru.. Thanks for sharingg hehe

      Hapus
  5. Berarti di Jepang bunuh diri itu sudah jadi budaya sejak lama ya. Serem juga. Btw saya kalau disebut the beatles taunya cuma Hey jude :)

    BalasHapus
    Balasan
    1. Iya kak. udah dr dulu bgt rupanya..Saya suka Hey Jude, tp favorit saya adalah Here Comes the sun, let it be, :D

      thanks for commenting!

      Hapus
  6. Gw pernah liat buku ini di Gramedia. Tapi baca sinopsisnya aja gw gak tertarik. Mungkin emang otak gw yang gak mudah nangkap materi yang berbobot.

    Eh btw, salam kenal...

    BalasHapus
    Balasan
    1. halo mas, salam kenal juga. Thanks for visiting!

      Hapus
  7. hehe cukup berat yaa sepertimya bacaan ini.
    saya yang hanya sekedar penyuka bacaan ringan kurang cocok dengan bacaan ini.

    BalasHapus
    Balasan
    1. iya, bacaan memang punya preferensi masing-masing dan selera memang gak bisa dipaksakan hehe

      Hapus
  8. Mwmbuat novel pun ada seninya. Dan salah satu buku ini berseni tinggi dan diangkat dari realita dan budaya setempat seharo-hari. Kunjungan perdana ke blog ini. Sukses selalu

    BalasHapus
  9. Wah, saya baru denger Haruki Murakami nih. Sepertinya menarik untuk dibaca. Di Jepang, suicide itu memang sudah seperti budaya sendiri. Seperti para samurai yang memang lebih baik mati dengan harakiri daripada menanggung malu atau beban yang tidak sanggup dipikul.

    BalasHapus
    Balasan
    1. Jepang memang agak aneh ya mbak, dan kayaknya kultur kayak gitu cuman ada di jepang. Padahal mengurus kesehatan mental lebih penting dibanding kehormatan.

      Thanks for visiting!

      Hapus
  10. Saya mulai baca buku haruki Murakami karena ketemu satu quote nya yang keren di internet. Habis itu bela belain beli norwegian Wood yg versi bahasa Inggris. Susah sih bacanya waktu itu, mesti pelan pelan tapi menarik dalam pemilihan kata. Ide ceritanya juga sebenarnya sederhana tentang percintaan anak muda tapi menurut saya pendalaman karakter dan ceritanya yang membuat bagus. Memang sih penggambaran situasinya agak lumayan panjang tapi saya nikmatin. Semoga bisa baca review buku yang lain ya. Semangat..

    BalasHapus
    Balasan
    1. Wah, samaan ya mbak, buku pertama dari beliau. versi bhs inggrisnya kayaknya lebih puitik ya mbak. kemarin bacaan kedua saya dari Murakami adalah Tsukuru Tazaki, versi bahasa inggrisnya. Rampung dalam seminggu. Ternyata lebih enak juga bhs inggrisnya.

      Iya, mbak. Sederhana, tapi ngena. Gaya ceritanya memang mantap sih. Betul kadang ada beberapa part yang sangat filosofis.

      Thanks for visiting, kak! ditunggu postingan selanjutnya ya hehe..

      Hapus
  11. Ternyata gak cuma aku aja yang heran sama cover bukunya, kenapa kok mirip buku pelajaran anak sekolah. Hehehe.

    Aku sebenarnya belum pernah tau dan belum pernah baca novel dari Murakami. Maklum, novel luar yang pernah aku baca cuma novelnya Arthur Conan Doyle aja. Tapi setelah baca ulasan buku ini, aku jadi tertarik untuk membacanya suatu saat nanti. Penasaran banget seperti apa konflik batin yang dialami oleh orang yang akan memutuskan untuk melakukan suicide.

    BalasHapus
    Balasan
    1. Iya mbak. Sampulnya kurang menggairahkan. Entah dapat ide dari mana penerbitnya, memang ada pesan dibaliknya, cuman kayak berasa kayak monoton gitu.

      Wahhh,, pembaca Sherlock Holmes, saya malahan baru mulai mau baca. Sudah di rak buku. Legenda sekali ya Sir Arthur ini.

      Semoga nambah referensi mbak. Thanks for joining the conversation!

      Hapus
  12. Aku juga suka dengan gaya menulisnya Haruki Murakami. Aku belum baca nih yang Norwegian Wood. Kayaknya bakalan jadi list buku yang mesti aku baca selanjutnya. Thank you for the review.

    BalasHapus
    Balasan
    1. Welcome to my blog mbak Dini. wah, udah baca murakami juga ternyata mbak.

      Sama-sma mbak. Makasih sudah mampir baca :)

      Hapus
  13. Saya tahu buku ini ada di salah satu adegan film Korea berjudul Be With You.

    BalasHapus
    Balasan
    1. Hi, Mbak Nurul. Terima kasihs udah berkunjung! malah belum nonton film itu :D

      Hapus

Silakan beri pendapatmu tentang tulisan ini, dan bagikan pengalamanmu di komentar ya! Terima Kasih