[Book Review] Cantik Itu Luka, Eka Kurniawan

Sebagai orang yang baru saja membangkitkan lagi gairah membaca, akhir-akhir ini saya gemar menyambar buku-buku populer dari pengarang-pengarang populer. Lagi pula saya memang pengikut sastra populer (bukan metropop, teenlit atau semacamnya ya) jadi nggak ingin ketinggalan oleh buku-buku trending yang dibaca banyak orang. Buku populer tidak harus buku terbitan baru, saya bahkan sampai sekarang masih berburu novel-novel klasik. Prinsip saya sih asalkan critically acclaimed. Didasari rasa penasaran juga meskipun saya harus mengakui nggak semua buku populer atau pengarang populer itu bagus.

Jadilah saya, suatu ketika menyelami Goodreads untuk ‘berjalan-jalan’ mencari kira-kira buku apa saja yang menarik perhatian. Dan terpilihlah sebuah judul, Cantik Itu Luka, oleh Eka Kurniawan. Hingga suatu ketika dalam sebuah obrolan di meja makan bersama teman satu fakultas, teman saya tiba-tiba ngobrolin tentang novel ini. Saya punya di rak, kataku kemudian. Tapi belum membacanya. ‘Saya penasaran, sudah diterjemahkan lebih dari 30 bahasa, surreal novelnya.’ katanya antusias. Saya pun merasa semakin penasaran dan merasa teryakinkan oleh komentarnya.


Jujur, telat memang membaca novel ini. Buku ini sudah terbit sejak 2004, tapi saya baru menyentuhnya tahun ini kerena gaungnya yang sedemikian santernya. Menyabet penghargaan Prince Claud Award 2018, tertera dalam kover barunya, siapa sih yang nggak tersihir sama novel-novel penghargaan? Akhir-akhir ini nama Eka Kurniawan memang sedang meroket dalam kesusastraan nusantara, salah satunya karena novel pertamanya ini. Beberapa kritikus memujinya sebagai suksesor Pram, dan harus saya akui, setelah dua minggu saya melahap “Cantik Itu Luka”, mas Eka ini memang jempolan. Jagonya surealis. Saya merasa bersalah nggak mengenal beliau dari dulu pas kuliah di sastra.

Tentang Novel Ini
Cantik Itu Luka bermula dari kisah Dewi Ayu, seorang wanita cantik keturunan Indo-Belanda yang bangkit dari kubur, setelah dua puluh satu tahun kematian. Iya, bangkit dari kubur! Di bagian-bagian awal kita disuguhkan dengan adegan horor, tapi ini bukan sepenuhnya novel horor. (Beberapa pembaca asing merasa kalimat openingnya yang paling mencuri perhatian, saya pun juga demikian dibikin tersihir). Lalu kebangkitannya menguak tragedi tentang kepahitan hidupnya yang dipaksa menjadi pelacur di akhir masa kolonial. Sehingga ia melahirkan tiga anak perempuan, kesemuanya cantik-cantik, namun tidak diketahui siapa ayahnya. Ia hidup menghidupi anak-anak itu dengan menjadi pelacur, tanpa suami. Ia mengandung lagi anaknya keempat, lelah dengan memiliki anak-anak cantik, kali ini ia menginginkan anak yang buruk rupa, dan terjadilah, lahir bayi perempuan paling buruk rupa yang kemudian ironisnya ia beri nama Si Cantik.

Cantik Itu Luka ini kompleks, lewat novel ini, Eka mengisahkan nasib-basib manusia yang bertahan hidup di era pergolakan sejarah bangsa. Mengajak pembaca menyelami kehidupan yang mungkin tidak pernah kita rasakan, tapi ada dan disana lewat karakter-karakter dari keluarga Dewi Ayu. Keluarga Dewi Ayu ini memang agak-agak sedeng alias nggak waras. Saya hampir dibikin mengumpat begitu melihat pohon keluarga yang terdapat di halaman akhirnya, “Keluarga macam apa, aneh, kok bisa-bisanya, silisilahnya begitu kurang ajarnya.” Dan memang begitulah selanjutnya, novel ini bercerita tentang bagaimana tragedi keluarga “absurd” ini bermula dan bagaimana anak-anaknya menjadi biang keladi semua persoalan.

Komentar Saya
Cerita tentang seseorang yang bangun dari kubur terdengar begitu animasi, tapi ini bukan sepenuhnya novel horor. Dalam buku ini Eka meramunya menjadi sebuah kompleksitas dan kesatuan cerita yang sangat padat. Epik keluarga yang dibalut roman, kisah hantu, kekejaman politik dan juga mitos-mitos dan petualangan. Di beberapa bagian sedikit membuka pandangan pembaca bagaimana kehidupan Indonesia di masa penjajahan Jepang dan Belanda, bagaimana pembataian komunis, dan bagaimana gerilya melawan kolonial. Dan yang tak kalah menarik adalah tentang preman dan bagaimana ia menduduki suatu kota.

Saya tak pernah habis pikir novel ini begitu “liar” bicara seksualitas. Novel ini eksplisit, ofensif dan sedikit gila. Nggak sedikit lagi, tapi gila banget! Tentu saja kegilaan itu ada dikarenakan cinta gila dari masing-masing karakternya. Adegan seks yang digambarkan tampak begitu nyeleneh dan berlebihan. Rape scene nya kadang bikin nggak nyaman. Di beberapa bagian malah terkesan hardcore. 

Eka sering menggunakan kata-kata absurd lewat karakter-karakternya yang juga absurd. Kata-kata seperti “tai, hidungnya seperti colokan listrik, perkosa, berahi, menyetubuhi, bunting, mengentotnya” adalah sederet kata-kata terdengar begitu sangar dan Parental Advisory, tapi ya begitulah adanya. Eka tidak menutup-nutupi imajinasinya, karena mungkin itu mendukung ide cerita. Eka juga begitu sosialis, dan piawai menggambarkan kondisi politik yang carut marut di era kolonial lewat sebuah kota bernama Halimunda. Eka tidak melepaskan nilai dan budaya Indonesia dalam novel ini. Dilihat dari komponen “mistis”, dunia klenik dan horor ada pula kisah-kisah gantu gentayangan.

Alurnya maju mundur, tapi masih bisa dengan mudah dinikmati. Tiap bab begitu menarik, selalu saja ada plot twist yang nggak disangka-sangka terjadi. Dan konfliknya benar-benar bukan main-main seriusnya. Chaos! dan itu yang membuat saya terus membaca sampai akhir. Saya belum menempatkan Eka sebagai pengarang favorit, tapi saya salut dengan novel ini.

Overral, saya memberi skor 9 dari 10.

2 komentar

  1. Saya senang novel-novel realisme magis. Tapi entah kenapa belum terkumpul minat untuk membaca Eka Kurniawan. Mungkin setelah baca ulasan ini saya jadi terpanggil untuk ke toko buku dan menebus sejilid Cantik Itu Luka. Hehehe. Thanks for sharing your thoughts about the book, Mas. :D

    BalasHapus
    Balasan
    1. Komentar ini telah dihapus oleh pengarang.

      Hapus

Silakan beri pendapatmu tentang tulisan ini, dan bagikan pengalamanmu di komentar ya! Terima Kasih