Pengalaman 18 Jam Singgah di Muscat, Oman

Royal Opera House, Oman
Perjalanan ke Turki Oktober 2019 lalu, saya diberikan kesempatan untuk merasakan pengalaman pertama kalinya naik Oman Airlines. Seingat saya hampir semua penerbangan dari Jakarta menuju Istanbul lewat maskapai ini akan transit dahulu beberapa jam di Muscat. Pada keberangkatan, saya transit selama 6 jam untuk rute Jakarta – Istanbul. Sementara rute kepulangan, Istanbul-Muscat-Jakarta, bukan main-main durasi transitnya, 18 Jam!! (Baca juga: Pengalaman pertama solo traveling ke Turki)

Mungkin transit durasi tersebut sebagai strategi Oman untuk mempromosikan wisata mereka, sehingga saya pun juga tertarik untuk keluar kota. Tentu saja saya nggak mungkin dong betah buat keluyuran di bandara Muscat selama itu. Apalagi pas momennya landing pagi-pagi. Bandaranya cukup luas, modern dan canggih, walau terkadang cukup sepi apalagi kalau landing di malam hari. Kenceng sekali wifinya, untuk mendapatkan pasword bisa pakai scan paspor. Ngecharge ponsel juga dengan fingerprint. Pengalaman beli air minum segelas kecil seharga 28 ribu :’). Bandaranya lebih banyak menghubungkan penerbangan ke negara-negara timur tengah, saya juga sering berpapasan dengan jemaah umrah Indonesia yang menuju ke Jeddah.


Suasana bandara Muscat
Bagaimana dengan pengalaman naik oman air? Dari kacamata newbie backpacker yang ga paham dunia aviasikalau boleh komentar sejauh ini nyaman-nyaman saja kok. On time. Bersih. Longgar space kaki dan tempat duduknya. Makanan, dan minuman terbilang enak. Cuman saya agak kurang cocok sama appetizernya. Koleksi film dan musik juga lumayan update dan layarnya HD, touchnya responsif walau headsetnya kurang nendang. Pramugarinya ya mbak mbak khas timur tengah gitu. Take off dan landing pun terbilang mulus nggak bikin badan saya terguncang. Saya puas, cuman yaa transitnya saja yang agak lama.

Omani Riyal yang unik, Baru tahu, di sebelah dunia sana, ada pecahan mata uang setengah! (1/2 OMR setara dengan Rp. 18ribu)
Seorang senior backpacker menyarankan saya untuk bertanya ke counter check in tentang fasilitas tambahan, berupa akomodasi transit. Karena dulu beliau ini juga sama, sama-sama dapat tiket promo juga, transit 18 jam juga dan dapat fasilitas hotel dan city tour gratis. Wah, Enak betul.

Pohon palem yang menjadi khas Oman. Desain luar ruangan di bandara. yang tampak seperti resort 
“Coba tanyakan, mas. Kali saja dapet.”
Saya mencoba realistis. Agak kebangetan juga kalau misal dapat fasilitas serupa orang harga promonya saja 4,7 Juta PP, jadi saya tidak begitu berharap lebih. Tapi bukan berarti saya nggak mau mencoba untuk konfirmasi fasilitas tadi.

“I’m sorry, but there’s no such facilities, sir.”
Yak! sudah kuduga. Saya pun berterima kasih dan langsung keluar.

***
Seseorang tiba-tiba membangunkan  saya yang kala itu tertidur pada sofa empuk. “Excuse, me. Where are you going?”. Sempat terkaget. Sebagai orang yang demen banget tidur, 5 jam penerbangan dari Istanbul membuat saya langsung rebahan begitu saja begitu turun di Muscat International Airport. Saya kucek-kucek mata dan langsung lihat ke jam, lega, masih pukul 9 pagi.

“Uhm, I’m heading to Jakarta. But I have few hours transit here.”

“Okay. I thought you’re going to miss your flights.”
Bapak bergamis putih tadi langsung pergi begitu saya menunjukkan boarding pass. Security bandara kah? Mungkin iya, mungkin tidak. Saya lihat sekeliling sofa-sofa masih sepi. Beruntung juga dibangunin. Nggak bisa ngebayangin kalau misal kebablasan. Alhamdulillah, energi untuk ngetrip kembali lagi dan cukup melepas jetlag. Bus ke kota baru mulai ada 10 pagi, masih ada banyak waktu. Saya pun langsung ke toilet, beberes diri kemudian menuju ke bagian pembuatan Visa On Arrival.


Visa terbilang mudah

Pembuatan visa Oman bisa dilakukan secara online ataupun on the spot. Saya memilih yang kedua. Biaya membuat Visa On Arrival di Oman adalah 6 OMR atau 230 ribu (10 Days visit). Saya waktu itu membayar dengan dolar yang saya tukarkan dari sisa-sisa lira. Kupikir lumayan lah jadi nggak penasaran lagi walau hanya mampir beberapa jam, bisa nambah-nambah stempel di paspor. Ngurusnya gampang sekali, tinggal ke bagian imigrasi. Menyodorkan paspor. Bayar dan dapat stempel deh.

Worth it kah keluar kota?

Highway, no macet
Kata yang lainnya, Oman memang nggak begitu banyak yang bisa dilihat karena ini negara penghasil minyak. Kupikir, mungkin Oman lebih menarik dari ku kira. Oleh karena itu nggak apa-apalah seightseeing sebentar. Yang penting liat pemandangan luar. Kota ini menarik juga, apalagi melihat jalannya kotanya yang dikelilingi gurun dan bukit, kotanya bersih, rapih, nggak macet. Melihat bentuk rumahnya, apartment dan gedung disini serba putih. Orang-orangnya juga ramah. Kalau pendaki, jabal-jabalnya kayaknya mantap itu. Bisa juga camel tour di padang pasirnya yang indah. Sebagai backpacker, tentu saja saya mencari highlight kota yang bisa dikunjungi secara free alias gratis.


Transportasi dari Bandara ke Kota

Suasana kota di Muscat

Transportasi umum terbilang mudah. Saya selalu menghindari taksi dan selalu memilih transportasi umum. Dari bandara, saya naik bus B1 ke Ruwi. Tarif dari dan ke bandara adalah 1 OMR (Rp.36.000) dioperasikan oleh Muwasalat Bus, Kalau di dalam kota sekitar 300 Baisa. Selama di bus saya cukup sering berpapasan dengan berbagai pekerja pendatang dari Bangladesh, India dan Sri Lanka.

Dari bandara ke masjid sultan qabus berjarak sekitar 10 KM. Sekitar 2 atau 3 stop, saya minta langsung turun di halte dekat masjid Sultan Qabuus. Rupanya dari halte masih harus jalan kaki hampir satu kilo! Hm. Karena pas banget jam zuhur, bisa kau bayangin sendiri kayak apa panas menyengatnya. Sebagai negara jazirah Arab, Oman ini panasnya warbiasah.


Sholat Berjamaah di Sultan Grand Mosque

Masjid termegah di Oman yang menjadi ikon, Sultan Qaboos
Sampainya di masjid Sultan Qaboos saya disambut oleh pemuda berpakaian khas Omani yang standby di beberapa sudut masjid, berbaju gamis cokelat, lalu menyapa dengan bahasa Arab dengan ramah. Begitu saya menyebut nama Yusuf, saya ditepuk-tepuk pundaknya dan langsung tahu kalau saya muslim.  Saya langsung dipandu. Hal pertama yang saya lakukan, nyari keran! khusus air minum, grrr.. Lalu bergegas mengambil air wudhu untuk sholat. Alhamdulillahh. dan terpesona pada interior masjid termegah ini. Gilak sih, segede ini, hanya diambil dari uang saku Sultan.


Sekilas tentang masjid Sultan Qaboos, jadi dulunya dibangun pada tahun 1995 dan bisa menampung total jamaah sebanyak 20.000 orang, pria dan wanita. Butuh waktu paling tidak 6 tahun untuk merampungkannya. Nama masjid ini diambil dari Sultan Oman, Qabus bin Said al Said, yang juga merupakan figur yang sangat dihormati di Oman.



Maaf kalo motretnya agak miring, karena random banget pas baterai low juga menahan sinar matahari. hehe. Usai solat berjamaah saya tidak lansung beranjak, mengamati keindahan tempat ibadah ini. Saya agak berlama-lama di masjid, karena diluar panas banget kayaknya nikmat buat ngadem.


Dan usai solat, saya sempat bertemu warga lokal di beranda masjid. Kemudian diajak untuk mampir, bertamu dan dijamu makan siang di rumahnya. Wah, warga Omani ini ramah-ramah. Nanti dipostingan selanjutnya akan saya tulis cerita lengkapnya. Merupakan pengalaman penyambutan yang sangat berharga sih selama saya ngetrip sendirian. Bisa dibilang, Ini adalah bagian paling berkesan.

Jadi butiran debu di Royal Opera House


Saya mampir ke Royal Opera House. Tadinya mau ke fort, tapi akhirnya saya random saja memilih tempat ini. Sengaja cari destinasi yang dekat-dekat karena hanya transit. Jujur nggak punya gambaran sebelumnya ini tempat apa.



Sesampainya disana, waw. Saya dibuat terpukau sama bangunan ini. Rupanya Sultan Qabuus itu ngefans banget sama pertunjukan seni musik, oleh karena ia membangun ini. Royal Opera House ini semacam kompleks teater musik dan pertunjukkan dan mall juga. Kompleksnya bergaya Islam-Italia yang dibangun pada tahun 2011. Memiliki teater konser, kebun, dan lainnya. disinilah pertunjukkan musik arab, Western-Classic, tarian balet, opera dan world music ditampilkan. Sepertinya bangunan ini adalah bukti kalau Oman negara yang modern.


Puas masuk dan keliling-keliling jadi butiran debu dan menikmati bangunan megah ini, pukul ke 17.00 saya langsung standby di depan halte dekat ROHM, dan mencari bus tujuan Airport karena bagaimana pun saya harus sampai di bandara untuk terbang ke Jakarta pada pukul 11 malam.

Kali ini memang tidak begitu mengejar destinasi, dan sebentar saja memang, tapi pengalamannya seru juga. Untuk pengeluaran selama beberapa jam ini saya hanya habis di visa, trasportasi dari dan ke kota, dan makan KFC dan beli snack di airport. Pengeluaran selama seharian hanya sekitar 350 ribuan sudah sama visa. Sangat worth it dibanding mendekam di bandara.

Menyenangkan melihat bagaimana suasana negerinya sultan Qaboos ini. Oman bukan my cup of tea, tapi setidaknya corak kota di semenanjung Arab ini juga tidak kalah menawan terlepas dari panasnya yang menyengat. Meski Oman terbilang kurang begitu ramah di kantong, tapi menikmati beberapa saat keluar kota sangat worth it juga.

Semoga bermanfaat ya, sampai jumpa di cerita perjalanan selanjutnya. Thanks for reading!

17 komentar

  1. Sultan Grand Mosque gilaaa, beneran megah bgt uy.. Meski fotonya miring tetep aja bikin spechless

    BalasHapus
    Balasan
    1. Iya Mba Ella. Sayang sekali langsung bet hp nya waktu itu, jadi ga bisa moto dalemnya yg lebih bikin saya menganga. Thanks for reading! :D

      Hapus
  2. Haha betul, itu salah satu strategi biar wisatawan mau jalan-jalan dulu ke negara mereka. Aku malah nyarinya yang kayak gini, dengan catatan udah nggak capek dari perjalanan sebelumnya :)

    Oman ini salah satu destinasi impianku. Ada beberapa Unesco WHS yang aku incer. Semoga kesampaian nanti main ke Oman. Amiiiin.

    BalasHapus
    Balasan
    1. Iya, Omndut. Fit adalah kunci agar kita menikmati perjalanannya.

      Iya banget om, ada fortnya yg bersejarah itu, tadinya saya mau kesana juga tapi takut nggak nyukup waktunya. haha. Amiin,, Semoga kesampaian ya om.. :D Makasih om sudah berkunjung. Speechless bangettt tulisanku dibaca travel blogger sultaan. *sungkem

      Hapus
  3. masjidnya keren parah, soal miring pas moto jadi tertutupi dengan keindahannya di Oman, meskipun nggak banyak yang bisa dikunjungin, tapi lumayan lah buat sightseeing, meski nggak di ramah di kantong, ini yang bikin mikir2 pastinya.

    BalasHapus
    Balasan
    1. Iya mas, banget. Sayang kalo ndekem saja di bandara. Haha. Tapi kalo cuman bentaran masih afford kok, kalo berhari-hari mah sultan namanya 😂

      Hapus
  4. Masha Allah, selalu tergetar hati kalau melihat masjid yang megah kayak gini, pengen ngerasain juga gimana rasanya sholat di situ.
    Karena kalau kami bepergian, mampir sholat di mushola kecil saja rasanya nikmat, apalagi traveling dan mampir sholat di masjid semegah ini.

    Semoga Allah mengizinkan saya juga bisa ke sana aamiin :)

    Btw, saya ikutan ngeri-ngeri juga tuh membayangkan kalau ketiduran dan kebablasan di bandara hahahaha

    BalasHapus
    Balasan
    1. Amiiiin ya mba.

      Menurutku keagungan masjid itu bukan dari seberapa megah, tapi bagaimana umat muslim menjaga, mendatangi dan merawatnya. Masjid di kecil di kampung tapi ramai bisa jadi serasa lebih nikmat dan mewah dibanding masjid besar tapi sedikit jemaahnya.

      Part of the journey, mbak. Alhamdulillah sesuai rencana wkw.

      Hapus
  5. waaa... nice travel bosku...

    BalasHapus
  6. Waaah, menyenangkan sekali tripnya mas. Suhu di luar ruangannya berapa derajat ya mas?

    BalasHapus
    Balasan
    1. Iya mas, waktu itu antara 38 an sih mas.. katanya kalo lagi cuaca puncaknya bisa nyampe 50! gimana tuh nyengatnya 😅

      Hapus
  7. Hai Mas Rifan. Beruntung yaaa lama transitnya, aku pas transit sana cuman sejam hahahaha, padahal pingin mampir soalnya liat dari atas pesawat, ini negaranya kok lucu warnanya dan banyak bangunan kotak-kotak.

    Ditunggu ceritanya makan sama warga lokal sana yaa. Salam kenal aku Justin :)

    BalasHapus
    Balasan
    1. Hai mbak Justin, iya mbak. Semoga next time diberi kesempatan mampir keluar ya mbak. Padahal mutrah Souq juga menarik.

      Terima kasih, sudah membaca. Salam kenalll juga mbak Justin dr blogger dan traveler newbiee :D

      Hapus
  8. Wah, Indah sekali mesjidnya. Semoga dikabulkan untuk bisa kesana juga, Aamiin.

    BalasHapus
  9. kota nya terbilang sepi ya kalau lihat mobil bisa lancar banget

    BalasHapus
  10. Kaget dong sama banget kaya aku hahahaha , ke turki singgah di Oman dulu 19 jam. wkwkwk kenapa samaaa :)))))) cuman aku mahal sih 7,juta sekian PP wkkwkwkw Salam kenal ya!

    BalasHapus

Silakan beri pendapatmu tentang tulisan ini, dan bagikan pengalamanmu di komentar ya! Terima Kasih