One Day Exploring Ankara, Turkey (Pengalaman, Kesan dan Cerita)

Jikalau teman-teman ditanya dimanakah ibukota di Turki, mungkin sebagian masih ada yang menjawab Istanbul. Memang sih, Istanbul sangat begitu familiar dan besar, letak geografisnya yang strategis berada di dua belahan benua Asia - Eropa sehingga wajar kalau sebagian mengira Istanbul sebagai capital city nya Turki. Tahukah kamu? Dulu pusat pemerintahan memang berada di Istanbul, setidaknya di masa kekhalifahan Ustmani. Sampai akhirnya Ottoman ambruk dan digantikan republik, barulah pada 1923 Mustafa Kemal Atatürk meminta ibukota dipindahkan ke Ankara. Jadi jangan salah ya, ibukota Turki yang benar adalah Ankara.  

Kesan Pertama Ankara 

“Ngapain lama-lama di Ankara? Nggak banyak yang bisa dilihat juga.” Nggak salah juga kalau ada yang bilang demikian. Kebanyakan yang berkunjung ke Turki banyak yang skip Ankara karena alasan tadi dan lebih milih ke kota lain seperti Selcuk, Pamukkale atau pun Konya. Saya pikir singgah selama sehari saja kayaknya cukup untuk sightseeing. 

Saya suka kota ini. Dibanding Istanbul, kota ini memang kalah populer. Buat dikunjungi? Menurut saya masih tetaplah worth it. Dan SANGAT AMAN. Saya singgah di Ankara setelah menikmati 2 pagi di Goreme/Cappadocia. Kebetulan satu arah untuk menuju jalan balik ke Istanbul. 

Anıtkabir, makam Mustafa Kemal Atatürk
Memang, dalam waktu dekat atau beberapa tahun kedepan kota ini tidak akan masuk ke daftar must Visit City in the world oleh lonelyplanet atau situs daftar wisata, tapi saya menemukan ambience yang tidak hanya sekedar wisata, lebih chill. Ankara menjadi menarik karena Salt lake nya yang membentang, disini pula kota dimana makam Ataturk bersemayam. Kita juga bisa melihat reruntuhan kekaisaran Romawi di citadelnya yang antik. Yang ingin lanjut studi, sepertinya Ankara bisa jadi pilihan karena suasana kotanya yang lebih kalem dan tetap modern.

Dibanding Istanbul atau Cappadocia, saya menemukan kesan bahwa kota ini less touristy, tentu saja itu nilai plus. Warga lokalnya kebanyakan nggak bisa berbahasa Inggris, itu jadi tantangan, tapi jangan khawatir karena mereka SANGAT ramah-ramah. Biar pun menyandang sebagai Ibukota, saya menemukan atmosphere yang tidak rush layaknya Jakarta. Ohya, kalau boleh membandingkan lagi, disini juga terbilang lebih murah, harganya bisa 3 atau 4 kali lebih murah dari Istanbul. Ini perlu dinote ya, cheaper! 

Menuju ke Ankara via Cappadocia

Kalau buka-buka map, Ankara ini posisinya di tengah, literally di jantungnya Turki. Saya menyambanginya dengan naik bus dari ottogar (bus station) Goreme/Kapadokya sekitar satu jam ke Nevsehir, dilanjut lagi ngebus 5 Jam dari Nevsehir ke Ankara dengan tarif 70 TL (Rp.160,000). Jarang ada bus yang mangkal di Goreme dan langsung ke Ankara. Bus-bus antar kota disini super nyaman. Ada colokan, ada layar di tempat duduk buat nonton, dikasih snack dan minuman. Bus juga transit dahulu di restoran buat yang ingin makan dan lengkap dengan fasilitas rest areanya.

Saya berangkat pukul 13.00 dari Nevsehir, sampai di terminal Inter City (ottogar) Asti – Ankara pukul 17:50. Dari terminal Asti ada shuttle yang menghubungkan ke kota, tidak dipungut biaya dengan syarat menunjukkan tiketnya. Luas banget terminal busnya, dan sudah terhubung dengan kereta bawah tanah. 

Keramahan dan Cerita di Kota Ankara

Ankara Citadel from top view, people watching
Biar pun sebentar, pengalaman yang saya dapatkan tidak terlupakan. Menyenangkan, begitu tahu betapa ramahnya kota ini menyambut.

Saya masih ingat di dalam bus dari Nevsehir ke Ankara, saya bersebelahan dengan warga lokal, Ali namanya. Ali nggak bisa berbahasa Inggris. Jadi saya berkali-kali harus ngetik lewat Google translate untuk memahami apa yang dia katakan. Begitu dia tanya nama, dan saya menyebut nama Yusuf, dia setengah kaget. "Yusuf is very common name here." Bagimana mungkin orang Asia bermuka jawa memiliki nama mirip orang-orang sini. Ternyata nama Yusuf terdengar sangat pasaran disini. 

“oo..Endonezya, Endonezya.” Lalu mengangguk-angguk keheranan. Kayaknya mereka jarang sekali berpapasan dengan turis Indonesia jadi wajar saja kalau agak terheran-heran. Berkali-kali ia menunjukkan saya tentang keindahan kotanya lewat bus yang kami tumpangi. “Tuz Golu… Tuz Golu!” 

penasaran, saya pun melongok dari balik kaca, dan.. Wow, pemandangan Salt Lake menghampar di seberang mata. Ah, sayang sekali saya lagi dalam bus dan tidak dalam roadtrip, kalau ada kesempatan ke Turki lagi pasti suatu saat kepengin mampir. Selama perjalanan dari Nesvehir ke Ankara, saya menikmati landscape yang benar-benar stunning. 

Tanpa diminta, Ali pun mengantar hingga ke stasiun di Kizilay. Saya pamit dan berterima kasih. Penyambutan hari yang baik, pikir saya. Saya semakin pede, bahwa dengan menjadi orang baik, kita pasti akan dipertemukan dengan orang-orang baik.

Orang-orang Ankara juga suka membantu. Pernah juga pada suatu kesempatan saat saya naik bus dalam kota , saya coba tempelkan kartu pintar untuk membayar pada pintu masuk dekat sopir, tiba-tiba muncul tanda silang merah pada layar, ternyata kartu Ankarakart saya sudah habis saldonya! sementara bus sudah melaju cepat. Canggung sekali waktu itu. Haduh, gimana ini sampe nggak enak sama supirnya. Mana sopirnya nggak menerima cash. Lalu tiba-tiba seorang Ibu berhijab beranjak dari tempat duduknya dan langsung menempelkan kartunya untuk saya, dan beep. 

Saya dibayarin. Saya pun langsung berterimakasih. Waktu saya mau menggantinya, dia insist menolaknya. Sampai nggak enak beberapa penumpang lain ngeliatin saya. Luar biasa memang, saya hampir-hampir tidak ingat kalau suasana Ibukota pun bisa sebaik ini. “If you need anything, I’m here to help.” Terdengar suara seorang gadis menawarkan kebaikannya. “Oh, that's so kind of you. çok teşekkür ederim. Lagi-lagi saya bilang dalam hati, some people are just very nice. 

Melike Hatun Camii, Ankara, Turkey
Pengalaman juga, pas sepulang dari Ankara Castle di Ulus, Google map merekomendasikan saya sebuah no. bus yang bisa saya naiki untuk kembali menuju ke Ottogar, saya pun mengikuti sarannya. Ternyata salah naik! Malah berbalik arah!  Untung belum kejauhan jadi saya pun akhirnya minta berhenti di jalan. Sialnya, saya pun harus kembali berjalan tertatih-tatih menggendong tas, dan mencari pemberhentian bus lain. Sampai akhirnya bertemu lagi warga lokal yang kebetulan searah, dan dengan senang hati mengantar saya ke stasiun terminal Asti. Nggak ngerti lagi saya, di dunia ini terlalu banyak orang baik apa gimana sih. Benar juga kata guru traveling saya, besok lagi kalau jalan sendiri, sediakan banyak cinderamata dari Indonesia. Untuk bisa dipersembahkan kepada yang membantu kita di jalan sebagai ungkapan tanda terima kasih.

One fine morning in Ankara
Bagi sebagian orang mungkin itu terdengar biasa saja, tapi yang mengalami biasanya punya kesannya sendiri. Tersesat, salah jalan dan sebagainya sih biasa, justru itu seni dari jalan jalan sendiri. Setiap pengalaman nyasar selalu jadi mengesankan. Tiba-tiba saya jadi belajar, a little help can always change everything. Saya juga percaya, bahwa Tuhan selalu bersama para musafir.

Di Ankara, saya dapat teman baru, Linda dan Sonia, dua mahasiswi muda dari Pasuruan dan Palembang yang sedang studi jurnalistik di Universitas Ankara. Kami pun bertukar pengalaman. Seperti apa rasanya studi disana, bagaimana pengalaman mereka mendapat beasiswa dll. Linda dan Sonia menjadi tourguide saya selama seharian di Anitkabir. Mendengar cerita-cerita teman-teman yang studi abroad selalu membuat saya terpacu untuk menggapai mimpi-mimpi. "Wah, keren banget kalian!"

Terima kasih sudah menyempatkan waktu membaca. Sampai ketemu lagi di cerita perjalanan selanjutnya ya!

Tidak ada komentar

Silakan beri pendapatmu tentang tulisan ini, dan bagikan pengalamanmu di komentar ya! Terima Kasih