Bagaimana Membaca Buku Mengubah Hidup Seseorang

Setidaknya sudah 8 judul buku yang saya baca semenjak Juli. Kebanyakan fiksi. Jumlah yang bisa dibilang masih sangat sedikit, tetapi untuk ukuran orang yang masih belajar mencintai aktifitas membaca, bagi saya itu sudah lumayan. Saya mengumpulkan setidaknya 20 novel yang ingin kuselesaikan akhir tahun ini, dan ternyata selalu ada judul-judul baru yang memikat yang menambah daftar want-to read.

Saya menyadari satu hal yang berubah dalam diri saya setelah membaca buku: Mulai menemukan arah saat ingin berkata-kata lewat tulisan.
Saya mulai bisa mudah mencurahkan pikiran, tidak lagi kehilangan kosa kata. Saya jadi teringat betapa saya dulu sering sekali mengumpat diri saya sendiri karena gagal menulis sampai baris akhir, setengah mati kalau ingin berkarang tulisan. Akhirnya, saya pun mulai mengerti kenapa saya memulai membaca. Saya ingin menemukan lagi kosakata-kosakata yang hilang dalam otakku. Hasilnya? Mungkin kau bisa melihat dari caraku menulis sebelum dan sesudah memulai membaca. Biarkan semua mengalir begitu saja. Entah kenapa, saya merasakan ada perkembangan.

Dua, buku ternyata bisa menjadi teman yang baik. Untuk yang ini sih dapat dari quotes. lebih ke nambah-nambah aktifitas refreshing di kala senggang. Walau sekadar aktifitas sampingan sebelum tidur, di hari libur, atau teman ngopi, ngefek juga ternyata. Saya mulai tahu kenapa orang lebih bahagia menikmati momen solitude nya dengan membaca, ya meski pun secara fisik mereka sendiri, tapi dia sedang diajak pergi authornya melalui imajinasi yang mereka bangun.  Ada benarnya juga kalau buku bisa menjadi kawan baik, kawan yang bisa memberikan pengalaman dan menyaji kebijakan. Ya, kau tahu sendiri, semakin kita bertambah usia, teman-teman kita perlahan-lahan pergi. datang lagi, dan pergi lagi. itu sudah menjadi kodratnya. Buku bisa menjadi self-help dan kawan bercerita yang menghibur.

Ah, kita harus sepakat kalau self-discipline itu berat ya. Sama beratnya saat saya sudah memulai berniat untuk merampungkan bacaan dalam suatu waktu. Makanya, saya memulainya dengan setidaknya hal yang saya suka, memilih bacaan-bacaan yang sesuai dengan kepribadian. Sehingga cukup memudahkan proses saya berteman dengan buku. Jangan malu dibilang kutu buku, atau nerd, judgement seperti itu tidak ngaruh. Kalau kamu bahagia dengan hal yang kamu suka ya, kupikir komentar orang lain sudah sepatutnya kamu cuekin saja.

Tiga, membaca buku melatihku belajar memahami perspektif, memahami pemikiran penulis, melatih berimajinasi. Membaca fiksi, misalnya, bisa melatih kita melihat suatu perspektif pengarang lewat karakter yang ia bangun. Saya suka terbawa suasana ketika pengarang dengan mahirnya memainkan dunia yang saya sendiri tidak pernah merasakannya. Disini secara langsung sisi humanis saya terlatih. Banyak poinnya sih, kadang membaca juga kerap membuat kita lebih berpikir lebih bijak.

Semoga tulisan ini bisa sedikit memberi impact buat teman-teman yang ingin memulai membaca ya. Saya juga masih belajar mengatur habit ini soalnya hehe.

Tidak ada komentar

Silakan beri pendapatmu tentang tulisan ini, dan bagikan pengalamanmu di komentar ya! Terima Kasih