Jadi Turis di Bandung

Suasana Malam hari di Gedung Sate, penuh dengan muda-mudi

Perjalanan ke Bandung kedua kali ini sebenarnya punya satu misi: ingin melengkapi wishlist Kawah Terbaik di Jawa setelah Kawah Sikidang di Dieng (Jateng), Kawah Ijen di Banyuwangi (Jatim), dan giliran kali ini saya ingin ke Kawah Putih di Ciwidey (Jabar). Alhamdulillah, di acc sama Allah buat melengkapi list tersebut.
Saya sudah penasaran sama keindahan sisa-sisa letusan Gunung Patuha tersebut yang kabarnya dijadikan lokasi shooting Wiro Sableng ini.

Kalo ngomongin alam-alaman Bandung, rupanya Bandung Barat dan Selatan juaranya. Sewaktu trip ke kota Kembang tahun lalu, saya hanya sempat menatap Bandung dalam waktu yang sangat singkat karena cuman seharian nyobain wahana di Trans Studio, hi hi hi. Dan Bandung bukan cuman tentang TSB, bukan? Apalagi buat anak yang demen sama wisata yang ijo-ijo dan outdoors kaya saya. Explore Ciwidey dan Lembang adalah tujuan nomor wahid dan tak ingin saya skip begitu saja. Ohya, niatnya saya juga sekalian ingin window shopping kamera, cuman rupanya ga jadi karena ga cukup waktunya.

Balai kota Bandung
Keluyuran kali ini ditemani kawan satu kosan dan teman pejuang creator juga, Surito, anak kelautan asli Indramayu yang belum kunjung lulus. Cukup banyak perjalanan yang sudah kami lalui bersama-sama temen satu genk WA The Explorer ini, karena saya tau bentar lagi mungkin sudah tidak bakal banyak ngetrip lagi, bisa jadi ini petualangan kami yang terakhir. Surito ini belum pernah ke Bandung.  Mumpung lagi selow katanya lagi ditinggal dosen, tanpa pikir panjang kawan saya pun akhirnya join. Rencananya, kami akan menyewa motor setiba di Stasiun Kiaracondong. Biar enak, karena sama-sama awam sama Bandung, kami cuman modal Maps di smartphone, yang satu nyetir yang satu navigasi dan bergantian. Dengan begitu, kami jadi lebih bebas kemana saja dan leluasa melihat Bandung dari macetnya, pemandangan kotanya, dan aktivitas kesehariannya. Dan petualangan kami pun dimulai!


DAY 1 : Senja di Alun-alun Bandung, Kota Lama Jalan Braga, Asia Afrika

Kami memulai perjalanan dari Purwokerto denga naik KA Serayu, dengan modal tiket cuman 63 ribu. Buat penikmat KA ekonomi, pasti tahu kayak apa rasanya berlama-lama di kursi ka serayu. tapi bagi saya pribadi tak menyoal itu. Apalagi, hari keberangkatan kami disuguh kopi gratis dari KAI karena waktu itu ada event #NgopiBarengKAI karena sudah install aplikasi KAI di handphone, lumayan kan jadi ga jenuh perjalanannya. Sudah tentu badan ini butuh istirahat begitu turun di St. Kiaracondong karena hampir 8 jam waktu kami habis perjalanan. Sesampainya di penginapan, kami langsung deh tepar dan istirahat sejenak dan pesan makanan di sekitar hostel. Kami booking penginapan murah di sekitar Lengkong agar kemana-mana mudah. Sorenya, kami memilih nongkrong di alun-alun dan keliling kota lama.

Matahari terbit di Museum Asia Afrika Bandung, taken from iPhone 7 Plus
Menikmati suasana sore Jalan Asia Afrika yang penuh dengan macetnya soul nya Bandung. Mood saya langsung naik dan rasa capek perlahan hilang begitu kami city walking di sekitar Jalan Asia Afrika-Braga. Kalian tentu paham kalau disini adalah tempat dimana gedung-gedung peninggalan kolonial bertaburan, dan boleh dibilang pusat Kota Tua yang ada di Bandung. Gerombolan pemuda, fotografer, pegiat komunitas dan cosplayers riuh membuat kota ini semakin hidup. Mereka yang menghiasi kota akan berjajar di sekitar jalan area dekat alun-alun ini. Uniknya, para cosplayer ini cukup update dan mengikuti trend pop culture. Iyalah, secara Bandung kan kota kreatif gitu.


Waktu kami kesana, ada cosplay The Nun yang berkostum mirip Valak! Cosplayer satu ini yang paling menjadi pusat perhatian. Bukannya pada ketakutan, mereka malah ngedeketin dan berswafoto. Saya sebenernya juga ingin foto sama Valak, tapi karena agak nervous diliatin banyak orang, saya pun mengurungkan niat (seriously bukan karena takut. haha). Kalau kalian sehabis foto-foto sama mereka, Jangan lupa isi kotak ya biar mereka semakin semangat dan kreatif meramaikan kota. Tak perlu malu-malu untuk foto-foto, karena kawasan ini memang kawasannya ngeksis atau untuk sekedar santai membunuh waktu.


Jalan Braga juga nggak kalah menawan sih.

Puas jalan kaki sekitar kota lama, kami lalu istirahat dan solat magrib di masjid Agung di alun-alun. Jujur, ini kali pertama solat disana karena dulu cuman maen di green yard nya doang. Dalemnya luas banget ternyata. Surito, ingin sekali berkunjung ke green yard nya itu namun sayangnya sedang direnovasi.

“Pengen banget kesana, direnovasi koh. Cicite!” kata kawan saya yang gembul itu. dan begini penampakannya.



Dan semakin malem, rupanya gemerlap lampu-lampu kota Bandung tampak makin kece. Besok masih banyak perjalanan, Then we go back to the hostel and have a quality rest for tomorrow’s adventure

Bersambung...

Tidak ada komentar

Silakan beri pendapatmu tentang tulisan ini, dan bagikan pengalamanmu di komentar ya! Terima Kasih