The Bittersweet of 2019 (tough year, and what I actually learned)


Rasanya campur aduk. Ada badainya sendiri. Bisa dibilang badai tahun ini lebih kencang dibanding yang saya rasakan sebelumnya. Ada hari-hari dimana saya benar-benar merasa sangat beruntung. Ada hari-hari dimana saya merasa sangat kehilangan. Ada momen dimana saya sangat percaya diri. Tidak jarang juga saya ragu, merasa tersesat dan tak tahu kemana harus melangkah. Happy and sad at the same time. Sometimes I feel extremely grateful, sometimes I feel the sorrow that's painful. 

Tahun ini juga tahunnya pendewasaan, lingkar pertemanan yang kian surut, karena semakin menyadari bahwa teman-temanku perlahan-lahan pergi mengejar mimpi-mimpi mereka masing-masing. Ada yang lanjut studinya ke luar negeri, ada yang jadi pegawai negeri, guru, presenter TV, pegawai korporat, beberapa jadi pengusaha, beberapa sudah menikah dan sudah jadi ayah/ibu. Ternyata ada juga yang baru saja patah hati, ada yang masih mencari, menunggu, ada yang masih terus berjuang bahagiakan orang tua. Ada banyak sekali pintu yang Tuhan persiapkan untuk manusia, sepertinya mereka sedang memasuki pintu-pintu mereka masing-masing. Meski usianya sama-sama 25, jalan hidup kita ternyata bisa berbeda-beda.

Semakin dewasa, juga semakin menyadari orang-orang datang dan pergi. Sehingga, sudah tak terhitung hari-hari dimana saya harus bergulat untuk bisa berkawan baik dengan diri saya sendiri, terutama pada saat-saat menentukan pilihan.

Perihal karir, bisa dibilang lagi musim kemarau. Tahun ini saya kehilangan ide dan energi membuat konten yang sejak dulu sudah menjadi aktivitas sehari-hari, bisa dihitung jari kreasi yang saya buat di tahun ini. Sampai akhirnya kanal yang sudah 3 tahun terakhir menjadi sumber penghasilan, sudah nggak lagi menghasilkan rupiah karena peraturan baru yang menyesakkan.

“Nggak bisa buat pekerjaan utama lagi. Aku harus berbisnis.” Pernah bergumam seperti itu.

Mulailah saya kelabakan mencari usaha penggantinya. Rupanya saya terlalu nyaman dengan kehidupan saya yang dulu, dengan sistem yang dulu, sampai akhirnya tidak berani mengambil kesempatan lainnya. Rasa-rasanya ingin menyerah saja. Akhirnya sadar, bahwa kesalahan terbesar ditahun ini adalah kurang bisa menerima perubahan dan bergegas memperbaiki.

Dan yang namanya musibah bisa datang tidak terduga-duga. Dini hari di Bulan Juli, dalam sebuah perjalanan ke rumah, saya kecelakaan. Kecelakaan tunggal dalam sebuah mobil yang dikemudi keponakan saya. Kaki kiri cedera hingga retak. Saya dioperasi.

Sudah jatuh tertimpa tangga pula.
Selang dua hari semenjak saya kecelakaan, saya kehilangan Bapak. Beliau meninggal tepat di hari ulang tahunku yang ke 25. Kami sama-sama sedang dirawat di rumah sakit yang sama. Enggak tahu lagi perasaan saya saat itu. Hancur. Saya sering berkaca-kaca dalam kesendirian. Sering berat kalau melihat album-album kenangan, dan momen-momen bapak berjuang melawan sakitnya.
Yang patah tumbuh, yang hilang berganti. 
Saya menyadari arti kehilangan yang sebenarnya, yang tak mungkin bisa dijelaskan ke orang lain. Lagi-lagi, belajar menerima kenyataan adalah hakikat kita hidup.

 Bagian yang membuat saya berterimakasih di tahun ini adalah, saya diberi kesehatan, dan masih diberi kesempatan untuk mengenal hidup dengan perjalanan. Ya, akhirnya saya bisa menyadari makna dari sebuah perjalanan yang tidak sekedar berangkat dan pulang, perjalanan memberi saya pelajaran mengenali diri saya lebih dalam. and I'm extremely grateful. Allah masih berbuat baik, Allah masih menuntun saya ke sebuah jalan yang tidak sempat saya fikirkan sebelumnya.

Saya menghela nafas lega, takjub dan keheranan, Allah masih memberikan saya kesempatan untuk  bisa mengunjungi 6 negara tahun ini. India, Singapura, Malaysia, Turki, Oman dan Filipina. Jujur ini terbilang adventoruus. Dan jujur, semuanya tentu saja berkah dari sang kuasa.

Banyak cerita yang belum tertuang, dan saya tidak sabar berbagi disini satu-satu. Semua menyenangkan dan mengesankan.  Perjalanan memberikan saya banyak pengalaman dan pelajaran berharga. Saya dipertemukan dengan orang-orang baik. Saya merasa terasah mentalnya dan merasakan seni yang membuat saya menemukan saripati hidup.

2019 belum benar-benar berakhir. Masih ada kejutan dan cerita lagi di sisa-sisa harinya.
Masih ada waktu buat memperbaiki diri lagi untuk menyambut 30 hari kedepan.

I finally have to realize one thing in life: nothing is permanent. Not to mention what you usually called happiness. Yeah, turns out, we can’t be happy all the time, yet we can’t be unhappy all the time too. 

Kedepan masih menjadi misteri.  Tetap bertahan. dan Tetap berprasangka baik. Good luck for you too.

Tidak ada komentar

Silakan beri pendapatmu tentang tulisan ini, dan bagikan pengalamanmu di komentar ya! Terima Kasih